Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #8

Chapter tanpa judul #8

Maura menaiki eskalator menuju lantai kantornya dengan langkah berat. Ia merasa seperti membawa pulang sesuatu yang tidak diinginkan, sesuatu yang sulit dibuang meskipun ia sudah meninggalkan tempat asalnya.

Bayangan wajah Leo dengan bekas merah di pipinya terus muncul dalam ingatan. Maura mencoba memikirkan pekerjaannya, daftar tugas yang belum selesai, atau apa yang akan dimakannya malam nanti. Namun, pikirannya kembali pada kedai kopi dan ucapan Leo tentang Dika.

Di bawah sana, Leo masih duduk di tempatnya.

“Kamu sudah mulai merespons, Maura. Dan itu artinya kamu sudah mulai meninggalkan dirimu yang lama,” gumamnya.

Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya tanpa terburu-buru. Baginya, pertemuan itu berjalan sesuai harapan. Ia telah menanamkan keraguan tentang Dika, dan ia yakin keraguan tersebut akan terus tumbuh di benak Maura setelah mereka berpisah.

Leo tahu bahwa kenangan yang selama ini menjadi pegangan Maura bukan sesuatu yang mudah dilepaskan. Karena itu, ia tidak berniat menghancurkannya dalam satu percakapan. Ia hanya perlu membuat Maura mulai mempertanyakan apa yang selama ini diyakininya, sampai perempuan itu sendiri merasa tidak lagi bisa bergantung pada kenangan tersebut.

***

Begitu sampai di lantai kantor, Maura langsung menuju toilet paling pojok. Ia masuk ke salah satu bilik dan menguncinya dari dalam.

Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di depan wastafel. Kemudian ia membuka keran dan membasuh wajahnya berulang kali. Air dingin membasahi pipi, leher, dan lengannya. Ia mengusap kulitnya dengan telapak tangan, seolah ingin menghilangkan rasa tidak nyaman yang masih tertinggal setelah berhadapan dengan Leo.

Namun, yang terus teringat justru ucapan pria itu.

Dia tidak cukup sayang padamu untuk tetap bertahan hidup.

Maura memejamkan mata. Kalimat tersebut terasa begitu kejam hingga ia ingin menutup telinga, meskipun Leo sudah tidak berada di sana.

Air yang mengalir dari keran tidak membuat pikirannya lebih tenang. Kata-kata Leo telanjur mengusik kenangan yang selama ini ia simpan dengan hati-hati. Satu per satu, kejadian bersama Dika muncul kembali, tetapi kali ini Maura memandangnya dengan pertanyaan yang tidak pernah ia ajukan sebelumnya.

Malam-malam yang mereka habiskan bersama. Janji-janji yang pernah diucapkan di bawah langit. Rencana tentang masa depan yang dahulu terasa begitu dekat.

Apa semua itu hanya kebohongan?

Apakah Dika sengaja meninggalkannya dengan rasa bersalah sebagai satu-satunya kenangan yang tersisa?

Maura membuka mata dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Kulitnya tampak pucat, rambut di sekitar pelipisnya basah, dan matanya mulai memerah. Ia mengusap pipi dengan tisu, tetapi air mata yang tertahan membuat ujung matanya kembali basah.

Selama tujuh tahun, Maura menempatkan Dika sebagai seseorang yang telah berkorban demi cinta mereka. Ia percaya bahwa Dika pergi karena keadaan yang terlalu sulit, karena keluarga dan perbedaan yang tidak bisa mereka atasi bersama.

Lihat selengkapnya