Pagi itu, Maura menemukan sebuah amplop besar berwarna cokelat di atas meja kerjanya. Tidak ada nama pengirim, hanya namanya sendiri yang tertulis lengkap dengan tulisan tangan rapi yang kini ia kenali sebagai milik Leo.
Maura tidak langsung membukanya.
Ia memeriksa amplop itu dari depan dan belakang, lalu melirik ke sekeliling ruangan. Beberapa rekan kerja sedang sibuk di depan komputer, sementara yang lain berbincang di dekat meja mereka. Tidak ada yang memperhatikannya.
Ia menyelipkan kuku di bawah bagian amplop yang dilem, lalu merobeknya perlahan. Kertas cokelat yang tebal terasa halus di tangannya. Maura sempat berhenti sebelum mengeluarkan isinya, seolah masih memberi dirinya kesempatan untuk mengembalikan amplop itu tanpa membaca apa pun.
Namun, rasa ingin tahunya lebih kuat.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi majalah kesehatan jiwa yang sudah diberi tanda. Judul artikelnya terbaca jelas: Mekanisme Rasa Bersalah pada Orang yang Ditinggal Bunuh Diri.
Beberapa paragraf diberi garis bawah. Di bagian pinggir, Leo menambahkan catatan dengan tinta biru, ditulis rapi dan mudah dibaca.
Maura menatap lembar pertama cukup lama.
Leo tidak mengirim bunga yang akan layu atau cokelat yang akan habis dimakan. Ia mengirimkan informasi yang secara khusus menyentuh masalah paling pribadi Maura. Ia tahu perempuan itu terbiasa mencari penjelasan, memeriksa fakta, dan mengandalkan pikirannya ketika menghadapi sesuatu yang sulit. Karena itu, Leo memilih cara yang bisa membuat Maura merasa harus membaca sampai selesai.
Tulisan tangan di pinggir halaman tampak begitu jelas sehingga Maura seperti dapat mendengar suara Leo saat membacanya.
“Lihat halaman 12, Maura. Kamu akan melihat dirimu sendiri di sana.”
Di bawahnya, ada catatan lain.
“Kamu sebenarnya bukan sedang menyayangi Dika. Kamu cuma sedang menikmati rasa sakitmu sendiri, karena tanpa rasa sakit itu, kamu tidak tahu lagi harus menjadi orang seperti apa.”
Maura menggenggam lembaran itu lebih erat.
Catatan terakhir berbunyi:
“Kamu sudah membuat rasa sedih ini sebagai ciri khas dirimu. Kalau rasa sedih itu hilang, kamu takut dirimu akan menjadi kosong tanpa arti.”
Maura meremas kertas-kertas tersebut hingga kusut. Ia ingin berdiri dan berteriak, tetapi ia tahu suara sekecil apa pun bisa menarik perhatian rekan-rekannya. Ia menahan diri, menunduk, lalu berusaha merapikan lembaran yang sudah terlipat.
Bagaimana bisa Leo bertindak sejauh ini? Ia telah mencari tahu tentang masalah pribadinya, memilih bahan bacaan yang sesuai, lalu mengirimkannya ke meja kerja tanpa izin. Pria itu seolah menganggap hidup Maura sebagai persoalan yang bisa ia selesaikan hanya dengan membaca beberapa artikel dan menuliskan kesimpulannya sendiri.
Namun, kemarahan Maura tidak bertahan sendirian. Ada rasa takut yang ikut muncul, sebab sebagian isi catatan itu menyentuh hal yang selama ini tidak pernah ia akui kepada siapa pun.
Selama tujuh tahun, Maura memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai perempuan yang ditinggalkan Dika. Bahkan ketika tidak mengatakannya secara langsung, ia menjalani hidup seolah kehilangan tersebut merupakan hal utama yang menentukan siapa dirinya.
Ia jarang membicarakan keinginan pribadi. Ia tidak lagi mengejar banyak hal yang dulu ingin dicapai. Ketika seseorang bertanya tentang masa depan, ia biasanya memberikan jawaban singkat, lalu mengalihkan pembicaraan.
Tanpa Dika, Maura tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. Ia bahkan kesulitan menyebutkan hal-hal sederhana yang membuatnya bahagia.
Jika kesedihan itu benar-benar hilang, apa yang tersisa dari dirinya?
Pertanyaan tersebut membuat Maura terdiam di depan meja. Ia tidak suka mengakui bahwa ada bagian dari dirinya yang takut melepaskan duka. Selama ini, kesedihan memberinya alasan untuk terus mengingat Dika. Tanpanya, ia harus mencari cara baru untuk menjalani hidup yang selama bertahun-tahun ia biarkan berjalan begitu saja.
Dika telah menjadi penunjuk arah bagi Maura, meskipun arah itu membuatnya terus berputar di tempat yang sama. Kini Leo datang dan mengatakan bahwa selama ini ia mungkin telah mengikuti jalan yang salah.