Mobil terus bergerak di antara kendaraan yang berjalan lambat. Hujan belum berhenti. Lampu jalan terlihat buram di balik kaca yang basah, sementara Maura berusaha memahami informasi yang baru saja ia terima.
Ia tidak bisa memastikan apakah Leo sedang mengatakan kebenaran atau memutarbalikkan fakta untuk mencapai tujuannya. Namun, pria itu berbicara dengan keyakinan yang membuatnya sulit mengabaikan setiap kata.
Maura menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Air mata mengalir di pipinya. Selama tujuh tahun, ia percaya bahwa kematian Dika merupakan akibat dari kegagalannya sendiri. Ia terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan, apa yang seharusnya dikatakan, dan bagaimana hubungan mereka mungkin berakhir berbeda jika ia berjuang lebih keras.
Sekarang, Leo mengatakan bahwa penyebabnya mungkin jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Jika ucapan itu benar, berarti selama tujuh tahun Maura telah menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Ia telah menghabiskan waktu untuk menghukum dirinya sendiri, tanpa mengetahui seluruh keadaan yang sebenarnya terjadi.
Pikiran itu membuatnya merasa kosong. Di satu sisi, ada sedikit kelegaan ketika ia membayangkan bahwa kematian Dika bukan kesalahannya. Di sisi lain, muncul kesedihan baru karena ia tidak tahu lagi bagaimana harus memahami kenangan yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.
“Kenapa kamu lakukan ini sama aku?” tangis Maura akhirnya pecah. “Kenapa kamu harus menghancurkan satu-satunya hal yang membuat aku merasa punya tujuan hidup?”
Leo memperlambat kendaraan, lalu menepi di bawah jembatan layang yang sepi. Setelah memastikan mobil berhenti, ia mematikan mesin dan berbalik menghadap Maura.
Maura masih menangis. Tablet tergeletak di pangkuannya, sementara kedua tangannya menutupi sebagian wajah. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Leo mengangkat tangan dan mengusap air mata di pipi Maura dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa hangat, berbeda dengan kata-katanya yang sejak tadi membuat Maura kehilangan pegangan. Di luar, air hujan menghantam atap mobil dengan suara yang rapat, menutup sebagian bunyi kendaraan dari jalan raya.
Di dalam kabin yang sempit, Maura tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menepis tangan Leo dan menyuruhnya pergi, tetapi tubuhnya terasa terlalu lelah untuk kembali bertengkar. Ia baru saja mendengar sesuatu yang mengguncang seluruh keyakinannya tentang Dika, dan ia tidak tahu kepada siapa harus meminta penjelasan.
Leo melihat kesempatan itu.
“Karena aku mau kamu melihat ke arahku, bukan ke arah bayangan orang mati. Lihat aku sebagai laki-laki yang nyata,” bisiknya. “Aku menghancurkan ingatan masa lalumu supaya kamu bisa melihat dirimu sendiri dengan jelas. Aku tidak mau kamu merasa berharga cuma karena ada orang yang mati. Aku mau kamu merasa berharga karena kamu ada di sini, di depanku, dan karena kamu adalah satu-satunya wanita yang paling menarik untuk aku sayangi dengan seluruh hidupku.”
Kata-kata itu membuat Maura mengangkat wajah.
Leo sedang menawarkan dirinya sebagai seseorang yang bisa ia percaya, seseorang yang akan tetap berada di dekatnya ketika semua hal yang selama ini ia yakini mulai dipertanyakan. Ia tidak sekadar mengatakan bahwa Maura berhak menjalani hidupnya sendiri. Ia juga menyatakan bahwa dirinya ingin menjadi bagian terpenting dari hidup perempuan itu.