Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #11

Chapter tanpa judul #11

Setiap kali mengucapkan kalimat semacam itu, Leo biasanya meletakkan tangan sebentar di punggung bawah Maura untuk mengarahkannya ke tempat lain. Gerakannya tampak biasa saja bagi orang-orang di sekitar mereka. Namun, bagi Maura, sentuhan singkat itu meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia merasa sedikit canggung, tetapi juga senang karena Leo begitu terbuka menunjukkan kedekatan mereka.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah lukisan abstrak yang didominasi merah tua dan hitam pekat. Catnya menumpuk dalam guratan-guratan kasar yang saling bertabrakan. Dari kejauhan, lukisan itu tampak berantakan. Beberapa pengunjung hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan langkah.

“Apa yang kamu lihat, Maura?” tanya Leo.

Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh percakapan di sekitar mereka. Ia sedikit mendekat ketika Maura belum menjawab. Maura bisa merasakan napasnya menyentuh sisi telinganya.

Untuk sesaat, kebiasaan lamanya muncul kembali. Ia takut jawabannya terdengar bodoh. Ia khawatir salah menafsirkan lukisan itu, lalu melihat kekecewaan di wajah Leo. Namun, ia segera teringat pesan laki-laki itu: jangan berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.

Maura mengamati lukisan itu sekali lagi. Ia memperhatikan guratan merah yang bertumpuk, lalu garis-garis hitam yang memotongnya dari berbagai arah.

“Ini bukan sekadar gambar yang berantakan,” katanya perlahan. “Sepertinya ini tentang perasaan yang dipaksa untuk diam.”

Ia mendekat sedikit, berusaha melihat bagian lukisan yang tertutup bayangan lampu.

“Warna merahnya seperti kemarahan atau kesedihan yang sudah lama ditahan. Bukan perasaan yang baru muncul, melainkan sesuatu yang terus menumpuk sampai akhirnya tidak bisa disimpan lagi.”

Tangannya terangkat. Jarinya bergerak mengikuti arah guratan tanpa menyentuh permukaan lukisan.

“Lalu garis-garis hitam ini seperti aturan atau larangan dari orang lain. Seolah-olah ada sesuatu yang terus berusaha membatasi perasaan tadi. Jadi, lukisan ini mungkin menggambarkan pertentangan antara keinginan untuk bebas dan tuntutan untuk selalu menurut.”

Leo tidak langsung menanggapi. Ia kembali memperhatikan lukisan itu, seakan-akan sedang mempertimbangkan penjelasan Maura. Setelah beberapa saat, ia menoleh kepadanya.

Tatapannya begitu lembut hingga Maura kesulitan menyembunyikan senyum. Tidak ada ejekan atau sikap meremehkan di wajah Leo. Laki-laki itu tampak sungguh-sungguh menghargai pendapatnya.

“Pintar,” katanya akhirnya.

Hanya satu kata. Namun, bagi Maura, pujian sederhana itu terasa lebih berarti daripada banyak sanjungan yang pernah diterimanya. Selama bertahun-tahun, ia lebih sering mendengar orang membicarakan kelemahannya daripada mengakui apa yang masih bisa dilakukannya. Kini, seseorang berdiri di hadapannya dan mengatakan bahwa ia pintar tanpa terdengar sedang mengasihaninya.

“Kebanyakan orang di ruangan ini hanya melihat warna dan bentuk,” lanjut Leo. “Mereka mungkin bisa menjelaskan tekniknya, tetapi belum tentu memahami perasaan di baliknya. Kamu bisa menangkap sesuatu yang tidak langsung terlihat.”

Leo bergeser mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Maura bisa mencium wangi kayu dari minyak wangi yang dikenakannya.

“Orang lain melihat kesedihanmu sebagai beban, Maura. Mereka menganggapmu lemah karena belum bisa melupakan masa lalu. Seolah-olah kamu sengaja bertahan di sana dan tidak mau melanjutkan hidup.”

Lihat selengkapnya