Sejak saat itu, Maura tidak lagi melihat Leo hanya sebagai dokter yang membantunya menghadapi masa lalu. Ia mulai menganggap laki-laki itu sebagai orang yang paling memahami dirinya, orang yang bisa memberinya petunjuk ketika ia tidak yakin harus berbuat apa.
Hari-harinya kemudian berubah. Setiap pagi, ia mulai memeriksa ponsel sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur. Bukan lagi sekadar melihat pesan dari teman atau pemberitahuan pekerjaan, melainkan membaca laporan dari aplikasi yang terhubung dengan gelang peraknya.
“Kondisi tubuhmu stabil hari ini. Kamu siap menjalani aktivitas.”
Pesan singkat itu muncul di layar dan membuat Maura merasa lebih tenang. Ia menganggapnya sebagai pengingat bahwa hari tersebut bisa dilalui tanpa harus terus memikirkan hal-hal yang menyakitkan.
Ketika membaca naskah yang mengingatkannya pada Dika dan dadanya mulai terasa tidak nyaman, ia segera melihat gelang di pergelangan tangan. Jika lampunya menyala hijau lembut, ia akan menarik napas dan berkata dalam hati, Aku baik-baik saja. Aku masih bisa mengatasinya.
Cara itu perlahan menjadi kebiasaannya. Maura semakin jarang mencoba menenangkan diri dengan cara-cara yang dulu ia lakukan. Ia lebih sering memeriksa aplikasi, mengikuti petunjuk yang muncul, dan menunggu pesan dari Leo ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Kantor yang dahulu kerap membangkitkan kenangan buruk mulai terasa lebih mudah dijalani. Maura kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan teratur. Namun, perubahan itu tidak luput dari perhatian teman-temannya.
Suatu sore, ketika mereka sedang berada di dekat meja kerja Maura, Dona memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya membuka percakapan.
“Kamu kelihatan beda sekarang, Ra.”
Maura mengangkat wajah dari layar komputer.
“Beda bagaimana?”
Dona tersenyum tipis, tetapi kekhawatiran di wajahnya masih terlihat.
“Kamu jarang ikut makan siang bersama kami. Kalau kami bercanda, kamu cuma tersenyum sebentar, lalu kembali melihat ponsel. Dulu kamu juga sering cerita macam-macam. Sekarang, rasanya kamu selalu punya urusan sendiri.”
Maura menutup layar ponselnya dan meletakkannya di samping keyboard.
“Aku cuma sedang belajar mengatur diri, Dona. Aku tidak mau terus membiarkan kesedihan mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hariku.”
Ia berhenti sebentar, lalu menoleh ke jendela kantor. Dalam pikirannya, kembali terbayang lukisan abstrak yang mereka lihat bersama Leo dan percakapan di kedai kopi setelahnya.
“Leo benar. Selama ini, aku terlalu sering membiarkan perasaanku menentukan apa yang kulakukan. Sekarang aku sedang belajar mengendalikan semuanya.”
Dona tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Maura, berusaha menemukan kehangatan yang biasanya muncul ketika mereka berbicara. Namun, temannya itu kini lebih sering menjawab dengan kalimat singkat dan mengakhiri percakapan begitu merasa sudah menjelaskan maksudnya.
“Menurutku, mengatur diri bukan berarti kamu harus berhenti merasakan sesuatu,” kata Dona. “Kamu boleh sedih, boleh senang, boleh marah. Kalau semuanya harus kamu tekan supaya terlihat baik-baik saja, bukankah itu justru akan menyulitkanmu?”
Maura menghela napas pendek.
“Aku tidak sedang menekan apa-apa. Aku cuma tidak mau terus terjebak dalam perasaan yang sama.”
“Tapi kamu juga tidak harus menjalani semuanya sendirian atau mengikuti semua yang dikatakan satu orang.”
Ucapan itu membuat Maura tidak nyaman. Ia merasa Dona tidak memahami apa yang sedang diusahakannya. Selama ini, orang-orang di sekitarnya hanya mengatakan bahwa ia harus pulih, tetapi Leo memberinya cara yang menurutnya jelas untuk melakukan itu.
“Aku tahu apa yang sedang kulakukan,” jawabnya.
Dona masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Maura sudah kembali menghadap komputer. Percakapan mereka berakhir tanpa penyelesaian.
Bagi Maura, perkataan Dona terdengar seperti keraguan yang tidak perlu. Ia merasa telah menemukan cara untuk memahami dirinya sendiri, sesuatu yang selama ini gagal ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Ia tidak menyadari bahwa keyakinannya untuk mengendalikan emosi justru membuatnya semakin sulit menerima pendapat yang berbeda.
Malam harinya, di apartemennya yang sepi, Maura kembali teringat ucapan Leo di depan lukisan.