Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #13

Chapter tanpa judul #13

Maura mengernyit. Ia tidak merasa takut atau cemas. Napasnya biasa saja, dadanya tidak sakit, dan ia tidak merasa akan pingsan. Ia hanya sedang bekerja dengan penuh perhatian.

Sebelum sempat mematikan pemberitahuan itu, panggilan dari Leo muncul di layar.

“Maura,” suara Leo terdengar tenang, tetapi ada ketegasan yang membuat Maura langsung berhenti bergerak. “Aku melihat catatan dari sistem. Kondisi tubuhmu menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa sejak dua jam lalu. Detak jantungmu meningkat dan belum kembali seperti sebelumnya. Apa yang sedang kamu lakukan?”

Maura melirik layar komputer.

“Aku sedang menyelesaikan naskah dan bahan presentasi untuk besok. Aku memang agak bersemangat karena baru menemukan beberapa poin yang menurutku bagus, tapi aku tidak merasa sakit.”

“Rasa bersemangat juga bisa menjadi tanda bahwa tubuhmu sedang mengalami tekanan,” potong Leo. “Kamu harus belajar membedakan keduanya.”

Maura tidak langsung menjawab. Ia masih ingin menyelesaikan gagasan yang tadi muncul sebelum terlupa.

Leo melanjutkan, “Ingat apa yang terjadi pada Dika ketika dia terlalu memaksakan diri dengan pekerjaannya. Kamu tahu bagaimana keadaan emosinya waktu itu. Pada akhirnya, semuanya menjadi semakin buruk dan hubungan kalian ikut hancur.”

Nama Dika membuat Maura kehilangan konsentrasi. Ia menatap dokumen di layar, tetapi kalimat yang baru saja ditulisnya mendadak terasa asing. Perutnya mulai tidak nyaman, dan ingatan lama yang berusaha dijauhinya kembali muncul.

“Tapi aku merasa baik-baik saja, Leo,” katanya. “Aku sungguh tidak merasa cemas.”

“Tubuhmu tidak selalu memberi tahu lewat rasa sakit yang langsung kamu sadari, Sayang. Data dari gelangmu menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami tekanan. Aku tidak mau kamu mengabaikannya sampai terlambat.”

Maura menggenggam tetikusnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia sedang menikmati pekerjaannya, bukan memaksakan diri. Namun, ia teringat betapa seringnya Leo mengingatkannya bahwa ia belum benar-benar memahami reaksi tubuhnya sendiri.

“Aku sarankan kamu berhenti sekarang,” kata Leo. “Matikan komputer, bereskan barang-barangmu, lalu pulang. Aku sudah menyiapkan teh hangat dan minyak aromaterapi di apartemenmu. Kita perlu membuatmu lebih tenang malam ini.”

“Tapi rapat besok pagi ini kesempatan besar buatku. Aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Kesempatan itu tidak akan ada artinya kalau kamu kehilangan kendali di depan para pemilik modal. Kamu bisa mempermalukan dirimu sendiri, bahkan kehilangan kepercayaan Pak Hendra. Kamu tidak mau itu terjadi lagi, kan?”

Maura terdiam.

Leo melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. “Kamu harus memilih, Maura. Kamu mau mempertahankan pekerjaan ini dengan mengorbankan kesehatanmu, atau mau menjaga dirimu yang sudah susah payah kita pulihkan?”

Maura menatap tumpukan kertas di samping laptop. Beberapa jam sebelumnya, ia begitu bangga karena akhirnya dipercaya menangani pekerjaan penting. Sekarang, ia mulai mempertanyakan apakah semangatnya memang sesuatu yang patut disyukuri atau justru tanda bahwa ia sedang kehilangan kendali.

Apa aku memang tidak bisa membedakan rasa senang dan kecemasan? Bagaimana kalau Leo benar? Bagaimana kalau aku berakhir seperti Dika?

Pikiran itu membuatnya semakin sulit mempertahankan keyakinannya sendiri.

Lihat selengkapnya