Maura yang menghubungi Dona lebih dulu.
Pesan singkat itu masuk ketika Dona sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Maura mengajaknya makan malam di restoran Italia yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Ajakan tersebut terdengar biasa, tetapi cara Maura menyusunnya terasa berbeda. Ia berusaha terdengar mantap, meskipun ada keraguan yang terselip di antara kalimat-kalimatnya.
Dalam pesan itu, Maura juga mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Dona langsung menyetujui ajakan tersebut. Selama beberapa minggu terakhir, ia semakin jarang mendapat kabar dari sahabatnya. Ia juga mendengar bahwa Maura mengambil cuti panjang dari kantor. Kekhawatiran yang selama ini dipendamnya membuat ia ingin mengetahui sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Malam itu, Maura akhirnya mengaku bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan Leo.
Ia menyampaikan pengakuan itu sambil memandangi meja. Sesekali ia merapikan serbet di pangkuannya, lalu menarik tangannya kembali. Ia tampak seperti seseorang yang sedang mengakui kesalahan, meskipun nada bicaranya menunjukkan bahwa ia sudah membulatkan hati untuk mempertahankan pilihannya.
Dona duduk di hadapannya dengan perasaan tidak tenang.
Restoran Italia itu diterangi lampu-lampu berwarna kuning redup. Petikan piano terdengar dari sudut ruangan, bercampur dengan percakapan pengunjung lain. Biasanya, tempat itu membuat Dona merasa nyaman. Namun, malam itu, ia sulit menikmati suasananya.
Di seberang meja nomor dua belas, Maura duduk dengan punggung tegak. Ia tidak banyak bergerak, selain sesekali membetulkan posisi duduknya. Ketika Dona menatapnya lebih lama, Maura segera meraih gelas dan minum sedikit, seolah membutuhkan sesuatu untuk mengisi jeda di antara mereka.
Tangannya kemudian bergerak mengusap pergelangan kiri, tempat gelang perak pemberian Leo terpasang. Gerakan itu sudah menjadi kebiasaan. Setiap kali merasa tidak nyaman, Maura mencari ketenangan dengan menyentuh gelang tersebut, seakan-akan benda itu bisa memastikan bahwa dirinya masih baik-baik saja.
Leo duduk di sampingnya. Ia sedang memotong daging dengan pisau dan garpu. Gerakannya teratur, tanpa tergesa-gesa. Sesekali ia melirik Maura, lalu kembali memperhatikan makanannya.
“Kamu kelihatan... beda, Ra,” kata Dona akhirnya.
Ia berusaha memulai percakapan dengan nada biasa, tetapi matanya terus mengamati wajah sahabatnya.
“Kamu sudah lama tidak memakai anting perak pemberian ibumu. Terus, aku dengar kamu mengambil cuti panjang dari kantor. Katanya, kamu belum tahu kapan akan kembali?”
Maura melirik Leo sebelum menjawab. Tatapan itu singkat, tetapi cukup jelas bagi Dona. Maura seolah ingin memastikan bahwa jawabannya tidak akan menimbulkan masalah.
“Aku cuma butuh istirahat, Don. Leo bilang suasana kantor terlalu ramai buat kondisiku sekarang. Aku perlu waktu untuk benar-benar tenang.”
Dona meletakkan garpunya.
“Tapi kamu suka sekali bekerja di sana, Ra. Sejak dulu, kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca dan memperbaiki naskah. Itu pekerjaan yang kamu pilih sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan kepadamu.”
Ia melirik gelang di tangan Maura, kemudian kembali menatap wajahnya.
“Dan anting itu juga penting buatmu. Kamu pernah bilang benda itu membawa keberuntungan dan selalu mengingatkanmu pada ibumu. Sejak kapan kamu membiarkan orang lain menentukan apa yang boleh kamu pakai atau tidak?”
Leo meletakkan pisau dan garpunya di pinggir piring. Ia mengangkat wajah, lalu tersenyum sopan kepada Dona. Sikapnya tetap tenang, tetapi tatapannya tidak menunjukkan bahwa ia merasa perlu mempertimbangkan keberatan perempuan itu.
“Dona, aku memahami kekhawatiranmu sebagai teman masa kecil Maura,” katanya. “Namun, dalam proses pemulihan, ada kalanya seseorang perlu meninjau kembali kebiasaan dan benda yang menghubungkannya dengan pengalaman buruk. Tujuannya bukan mengubah dirinya, melainkan membantu dia mengurangi hal-hal yang terus memicu ingatan menyakitkan.”
Ia melirik Maura sebelum melanjutkan.
“Anting itu, pekerjaan di kantor, dan rutinitas lamanya mungkin punya arti tersendiri baginya. Tetapi sekarang, beberapa hal tersebut juga bisa mengingatkannya pada masa ketika dia mengalami tekanan berat. Kami sedang mencari cara agar dia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang.”
“Itu bukan berarti semuanya harus disingkirkan!” bantah Dona.
Suaranya meninggi. Ia berusaha menahan emosinya, tetapi semakin mendengar penjelasan Leo, semakin kuat keyakinannya bahwa ada sesuatu yang salah.
“Anting itu bagian dari dirinya. Pekerjaannya juga. Kamu tidak sedang membantunya menerima dirinya sendiri, Leo. Kamu malah membuatnya menjauh dari semua hal yang selama ini membentuk dirinya.”