Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #16

Chapter tanpa judul #16

Setelah berhari-hari berada dalam suasana yang diatur Leo, keramaian di luar terasa mengganggu. Maura tidak menyadari bahwa dirinya mulai terbiasa menganggap suara dan kehidupan di luar sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Leo tetap menggenggam tangannya ketika menuntunnya menuju mobil hitamnya. Ia tidak melepaskannya sampai Maura duduk di kursi penumpang.

Di dalam kabin yang kedap suara, aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Leo terasa kuat. Begitu pintu tertutup, suara kendaraan dari luar meredam. Leo belum menyalakan mesin. Ia hanya duduk sebentar, membiarkan Maura menyesuaikan diri dengan suasana yang lebih tenang.

Kemudian ia memutar badan menghadap Maura. Ia merapikan rambut wanita itu yang sedikit berantakan, lalu memandangnya tanpa berkata apa-apa.

Maura menunggu, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan Leo.

Laki-laki itu mendekat dan mencium bibirnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Maura terkejut. Tubuhnya sempat menegang, dan ia tidak segera membalas. Namun, Leo tidak menjauh. Ia terus mendekat, seolah-olah ciuman itu merupakan kelanjutan wajar dari perhatian yang sejak tadi diberikannya.

Setelah beberapa saat, Maura membiarkan dirinya mengikuti kedekatan tersebut. Ia sedang lelah, bingung, dan tidak ingin kembali berdebat. Di tengah semua perasaan itu, kehadiran Leo terasa seperti satu-satunya hal yang masih bisa ia pahami.

Ia membalas ciuman itu dengan ragu. Ketika akhirnya mereka menjauh, Maura menarik napas pelan dan menundukkan kepala. Jari-jarinya saling meremas di pangkuan.

“Aku merasa jadi orang jahat, Leo,” katanya. “Dona teman masa kecilku. Dia cuma khawatir.”

“Kamu bukan orang jahat, Sayang.” Leo meraih tangannya. “Kamu sedang belajar menentukan apa yang baik untuk dirimu sendiri. Kamu tidak bisa terus membuat keputusan berdasarkan rasa bersalah terhadap orang lain.”

Ia mengusap gelang perak di pergelangan tangan Maura.

“Tapi ada satu hal yang perlu kamu pikirkan. Selama kamu masih kembali ke tempat tinggalmu yang dulu dan dikelilingi benda-benda yang terus mengingatkanmu pada masa lalu, kamu akan sulit benar-benar memulai lagi.”

Maura memandangnya tanpa menjawab.

“Apartemenmu itu bukan lagi tempat yang membuatmu nyaman,” lanjut Leo. “Di sana ada terlalu banyak hal yang mengingatkanmu pada Dika, pada pekerjaanmu sebelum semuanya berubah, dan pada masa ketika kamu terus menyalahkan dirimu sendiri. Kamu bilang ingin memulai hidup baru. Kamu yakin bisa melakukannya kalau setiap hari masih kembali ke tempat yang sama?”

Maura terdiam.

Ia membayangkan apartemennya sendiri: kamar yang sepi, rak buku yang dipenuhi bacaan lama, meja kerja kecil di dekat jendela, dan beberapa benda yang selama bertahun-tahun tidak pernah dipindahkannya. Semua itu sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun, akhir-akhir ini, ia memang sering merasa tidak nyaman ketika kembali ke sana.

Leo tidak memberi waktu bagi Maura untuk mempertimbangkan hal lain.

“Di rumahku, kamu bisa beristirahat tanpa harus terus menghadapi kenangan itu. Kamu bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Kita bisa mengatur semuanya bersama-sama sampai kamu merasa siap.”

Maura memandangi kedua tangannya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam ucapan Leo, tetapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ia juga tidak ingin kembali ke keadaan ketika setiap benda di apartemennya membuatnya teringat pada kehidupan yang gagal ia pertahankan.

Lihat selengkapnya