Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #17

Chapter tanpa judul #17

Malam itu, mereka makan malam di apartemen Leo. Tempat itu sangat mencerminkan pemiliknya: mewah, bersih, dan tertata hingga nyaris tidak menyisakan barang yang tampak diletakkan secara sembarangan.

Apartemen tersebut berada di lantai paling atas sebuah gedung tinggi. Dari jendela lebar, lampu-lampu kota tampak menyebar di kejauhan. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu ruangan, sementara permukaan meja dan benda-benda logam terawat tanpa noda.

Sebuah majalah di meja tamu diletakkan sejajar dengan tepi meja. Buku-buku di rak disusun berdasarkan topik dan ukuran. Bahkan kursi-kursi di ruang makan berada pada jarak yang hampir sama satu sama lain.

Maura terbiasa melihat kerapian seperti itu di tempat kerja, tetapi berada di dalam apartemen Leo membuatnya merasa harus berhati-hati. Ia tidak ingin menggeser barang atau melakukan sesuatu yang akan membuat laki-laki itu merasa terganggu. Bahkan ketika hendak mengambil gelas, ia sering memeriksa letaknya lebih dulu sebelum mengembalikannya ke tempat semula.

“Kamu melamun lagi, Maura.”

Suara Leo membuatnya tersadar. Bunyi garpu yang menyentuh piring porselen terdengar jelas di antara mereka.

Maura segera mengangkat wajah.

“Cuma memikirkan pekerjaan di kantor.”

Leo berhenti makan. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkan layar kepada Maura.

“Jangan bohong padaku. Aku bisa melihat detak jantungmu meningkat.”

Di layar terlihat grafik yang menampilkan perubahan detak jantung Maura dari gelang peraknya.

“Kamu sedang memikirkan Dika, kan?”

Maura menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak menyangka pembicaraan tentang pekerjaan akan berakhir dengan nama Dika lagi.

Grafik itu membuatnya merasa seolah-olah isi pikirannya bisa dibaca begitu saja. Ia tidak tahu apakah kenaikan detak jantungnya memang berkaitan dengan Dika atau karena dirinya terkejut melihat Leo memantau kondisinya saat makan. Namun, ia merasa sulit membantah ketika laki-laki itu sudah menunjukkan data di layar.

Maura meletakkan sendoknya.

“Leo, tolong. Bisa tidak kita melewati satu malam saja tanpa membahas Dika?”

Leo tidak segera menjawab. Ia meletakkan ponsel di meja, kemudian berdiri dan berjalan mengitari meja makan. Ia berhenti tepat di belakang kursi Maura.

“Kita harus membicarakannya sampai nama itu tidak lagi menguasai hidupmu.”

Kedua tangannya mendarat di pundak Maura. Ia meremasnya perlahan, seperti yang biasa dilakukannya ketika ingin membuat Maura merasa tenang. Namun, kali ini Maura sulit mengabaikan kehadiran laki-laki itu di belakangnya.

“Kamu merasa bersalah karena mulai menyukai sentuhanku,” lanjut Leo. “Kamu merasa sedang mengkhianati orang yang sudah meninggal. Benar begitu?”

Maura menunduk. Tangannya yang berada di atas meja saling menggenggam.

“Setiap kali aku merasa senang bersamamu, aku merasa seperti sedang menginjak-injak makamnya,” akunya akhirnya.

Leo membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Maura.

Lihat selengkapnya