Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #18

Chapter tanpa judul #18

Leo bergegas menyalakan lampu kamar. Cahaya putih memenuhi ruangan, membuat Maura menyipitkan mata. Dalam terang itu, ia melihat selimut yang kusut, bantal yang bergeser, dan tangannya sendiri yang gemetar. Tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan ketakutannya. Ia merasa malu karena terlihat begitu lemah, sekaligus sedih karena orang yang berada di dekatnya justru tidak berusaha menenangkannya.

Leo berdiri di samping ranjang sambil menatapnya.

"Rasa takutmu ini ternyata lebih keras kepala dari yang aku kira, Maura. Cara-cara halus sepertinya sudah tidak cukup lagi buatmu."

Ia menyisir rambutnya sendiri dengan jari, meski tidak ada bagian yang perlu dirapikan.

"Tapi aku benar-benar melihat dia di dalam mimpiku tadi, Leo. Dia... dia menyuruhku untuk kembali," kata Maura terbata-bata. Air matanya masih mengalir, membasahi pipi.

Leo tersenyum tipis. Ia memandang Maura seolah penjelasan wanita itu tidak masuk akal.

"Tentu saja kamu melihatnya. Isi kepalamu cuma sedang mencoba memunculkan kembali rasa sakit yang sudah biasa kamu rasakan dulu. Itu bukan hantu orang mati, Maura. Itu cuma bayangan dari rasa ketagihanmu pada rasa sedih. Dan aku yang akan menghentikan rasa ketagihan itu."

Maura menunduk. Ia ingin percaya bahwa Leo tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Selama ini, pria itu selalu punya penjelasan untuk setiap ketakutan yang muncul. Namun, malam itu, penjelasan tersebut justru membuatnya semakin sulit memahami perasaannya sendiri.

"Kita butuh cara yang lebih keras lagi," lanjut Leo. "Sebuah tindakan kejut untuk memaksamu keluar dari kurungan pikiran ini."

Maura kembali mengangkat wajah.

"Apa maksudmu?"

Leo tidak menjawab. Ia hanya memandang Maura dari kepala sampai kaki, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak bekerja sesuai harapannya dan harus diperbaiki dengan paksa.

Untuk pertama kalinya malam itu, Maura merasa tidak mengenali pria yang berdiri di depannya. Beberapa jam sebelumnya, sentuhan Leo sempat membuatnya merasa diinginkan. Sekarang, ia merasa sedang diperiksa, bukan sebagai seorang wanita yang sedang ketakutan, melainkan sebagai masalah yang harus dituntaskan.

Rasa hangat yang tadi sempat ia rasakan di ranjang telah lenyap. Yang tersisa hanya kamar yang terlalu terang dan tatapan Leo yang membuatnya ingin menarik selimut sampai menutupi kepala.

"Tidur lagi sana," bisik Leo.

Ia membungkuk dan mencium tengkuk Maura cukup lama sebelum kembali berbaring. Gerakannya seolah tidak terjadi apa-apa, seakan percakapan barusan hanyalah bagian biasa dari malam mereka.

"Besok pagi, kita mulai tahap baru untuk membersihkan pikiranmu."

Lihat selengkapnya