Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #20

Chapter tanpa judul #20

Maura mulai kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri. Ia tidak tahu lagi apakah ia sedang merasa tenang atau hanya takut membuat Leo kecewa. Ia pun semakin sulit membedakan perhatian dari pengawasan.

Yang paling menyedihkan, ia mulai percaya bahwa orang yang membatasi hidupnya adalah orang yang paling mampu melindunginya.

Dona bukan orang yang mudah menyerah, terutama jika menyangkut Maura. Sebagai sepupu Dika, ia pernah melihat sendiri bagaimana hubungan yang tidak sehat bisa bermula dari janji-janji manis. Pada awalnya, semuanya tampak seperti kasih sayang. Namun, lama-kelamaan, salah satu pihak mulai menentukan apa yang boleh dilakukan pasangannya, siapa yang boleh ditemui, dan perasaan mana yang dianggap benar.

Dona tahu akibatnya ketika seseorang dijadikan satu-satunya alasan untuk bertahan hidup. Orang yang terjebak dalam keadaan itu bisa kehilangan kemampuan untuk menilai hubungan mereka sendiri. Mereka bahkan bisa membela orang yang menyakiti mereka, sebab orang itulah yang sekaligus menawarkan kenyamanan setelah membuat mereka takut.

Itulah yang kini ia lihat pada Maura.

Di mata Dona, Leo bukan sekadar pria yang terlalu perhatian. Ia adalah seseorang yang tahu cara membuat keinginannya terdengar seperti keputusan terbaik bagi orang lain. Parfum mahal, tutur kata sopan, dan gelar dokter membuatnya mudah dipercaya. Namun, semua itu tidak menghapus cara Leo memandang Maura setiap kali ada orang lain yang mendekatinya.

Tatapan itu membuat Dona teringat pada seseorang yang sedang menjaga barang langka agar tidak disentuh orang lain.

Bagi Leo, Maura tampaknya bukan pasangan yang berhak mengambil keputusan sendiri. Ia lebih mirip benda berharga yang ingin disimpannya di dalam lemari kaca: dijaga agar tidak terkena debu, dijauhkan dari hal-hal yang dianggap merusak, dan tidak dibiarkan keluar tanpa pengawasan.

Pikiran itu membebani Dona. Dialah yang pertama kali memperkenalkan Leo kepada Maura. Saat itu, ia tidak punya alasan untuk mencurigai pria tersebut. Ia mengira seseorang dengan pengetahuan medis dan kemampuan memahami kecemasan bisa membantu sahabatnya melewati masa sulit.

Sekarang, ia justru melihat Maura semakin jauh dari dirinya sendiri.

Dona merasa ikut bertanggung jawab karena telah membuka jalan bagi Leo untuk masuk ke dalam kehidupan Maura. Ia tidak bisa membiarkan semuanya berakhir begitu saja. Ia harus mencari cara untuk menjangkau sahabatnya sebelum Maura benar-benar kehilangan keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri.

Tiga hari telah berlalu sejak percakapan terakhirnya dengan Leo. Pria itu mengakhiri panggilan dengan sikap yang tidak memberi ruang untuk dibantah, sekaligus melarang Dona menghubungi Maura lagi.

Dona menduga pesan dan panggilan yang masuk ke ponsel Maura tidak lagi menjadi urusan pribadi. Leo mungkin memeriksa setiap pemberitahuan, melihat siapa yang menghubungi Maura, bahkan menanyakan alasan di balik setiap percakapan. Mengirim pesan atau menelepon hanya akan membuat Maura semakin tertekan.

Karena itu, Dona memutuskan untuk menunggu langsung, meskipun ia tahu tindakannya bisa menimbulkan masalah.

Sejak pukul lima pagi, ia sudah berada di tempat parkir bawah tanah gedung apartemen mewah tempat Maura tinggal bersama Leo. Udara di sana lembap. Bau oli bekas bercampur dengan aroma semen basah dan cairan pembersih lantai yang menyengat.

Tempat parkir masih sepi. Dari langit-langit, air menetes sesekali dari pipa pendingin udara, menghasilkan bunyi kecil yang terdengar jelas di antara deretan mobil. Sesekali, suara mesin terdengar dari jalan masuk, disusul bunyi roda gerobak sampah yang bergesekan dengan lantai.

Dona duduk di dalam mobil dengan lampu dimatikan. Ia memilih tempat di antara beberapa mobil mewah agar tidak terlalu mencolok. Segelas kopi hitam yang dibelinya dalam perjalanan tergeletak di dekat tuas persneling. Kopi itu sudah dingin dan tidak lagi terasa enak, tetapi Dona tetap memegang gelasnya sesekali, sekadar untuk menghangatkan tangan.

Pandangan matanya terus tertuju pada pintu lift kaca di kejauhan. Ia berusaha tidak melewatkan siapa pun yang keluar dari sana.

Ia tahu Leo bukan orang sembarangan. Pria itu punya kenalan, kedudukan, dan kemampuan untuk membuat orang lain mempercayai penjelasannya. Dona tidak tahu apa yang akan terjadi jika Leo memergokinya menunggu di sana. Namun, rasa bersalah karena membiarkan Maura sendirian jauh lebih sulit ditanggung daripada ketakutan itu.

Lihat selengkapnya