Di dalam mobil yang belum bergerak, Maura mulai menyadari sesuatu yang sulit ia akui. Ia memang ingin terbebas dari rasa bersalah tentang Dika, tetapi selama ini ia justru menyerahkan keputusan hidupnya kepada seseorang yang membuatnya takut untuk tidak menurut.
Penderitaan yang lama setidaknya ia pahami. Ia tahu apa yang membuatnya sedih dan mengapa ia merasa bersalah. Bersama Leo, semuanya tampak lebih teratur, tetapi ia semakin sulit mengenali keinginannya sendiri.
Leo tidak melepaskan tangannya. Ia menarik Maura sedikit mendekat hingga bahu mereka bersentuhan.
Maura membiarkannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah melihat Dona pergi dan mendengar ancaman yang ditujukan kepada sahabatnya itu. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah, takut, dan kebingungan. Ia ingin kembali ke tempat parkir, tetapi tidak berani meminta Leo menghentikan mobil.
Leo mengangkat tangan satunya dan menyentuh tengkuk Maura, merapikan rambut yang jatuh di belakang lehernya. Jemarinya kemudian menetap di sana, menahan kepala Maura agar menghadap kepadanya.
"Maura, lihat aku."
Maura menurut.
Leo memandangnya beberapa saat. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang Dona lagi. Ia hanya mendekatkan wajah, lalu mencium Maura dengan desakan yang membuat wanita itu kesulitan mengambil jarak.
Maura sempat menegang. Ia ingin memalingkan wajah, tetapi tangan Leo masih berada di tengkuknya. Ia juga masih teringat ancaman yang baru saja disampaikan pria itu kepada Dona. Ketakutan dan kebingungan membuatnya tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Di luar mobil, Dona masih berdiri di tempat yang sama.
Melalui celah kecil pada kaca jendela, ia sempat melihat Leo menarik Maura mendekat dan menciumnya. Ia tidak merasa cemburu. Yang muncul justru rasa muak dan sedih melihat sahabatnya berada dalam situasi yang tidak mampu ia kendalikan.
Maura yang dikenalnya dulu tidak akan begitu saja menerima perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Ia biasanya akan menjauh, bertanya, atau menyampaikan keberatannya. Sekarang, wanita itu hanya memejamkan mata dan membiarkan Leo menentukan apa yang terjadi.
Dona tahu ia tidak bisa menilai perasaan Maura hanya dari apa yang dilihatnya. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja terjadi: ancaman Leo, ketakutan Maura, dan cara pria itu menggunakan gelang pemantau untuk membuat sahabatnya merasa bersalah.
Ciuman itu tidak terlihat seperti kedekatan yang dibangun oleh dua orang yang sama-sama bebas memilih. Bagi Dona, tindakan Leo lebih menyerupai penegasan bahwa ia masih bisa menentukan apa yang terjadi pada Maura, bahkan setelah wanita itu baru saja bertemu dengan orang yang ingin membantunya.
Dona memalingkan wajah. Ia menutup mulut dengan tangan, menahan keinginan untuk berteriak. Matanya terasa panas. Ia tidak sanggup melihat lebih lama ketika Maura, yang dahulu begitu berani, kini tampak semakin sulit menolak pria itu.
Kedua tangannya mengepal. Kuku-kukunya menekan telapak tangan, tetapi ia hampir tidak merasakannya. Ia berusaha menahan air mata sekaligus kemarahan yang terus mendesak keluar.
Di dalam mobil, Leo tetap memeluk Maura. Ia memperlakukan kedekatan itu seolah menjadi bukti bahwa wanita tersebut telah kembali tenang. Sementara itu, Maura berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian di tempat parkir.
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Tangan yang tadi mencengkeram kain gaun kini memegang kemeja Leo. Ia mencari pegangan di tengah perasaan yang saling bertentangan: takut kehilangan pria itu, takut pada reaksinya jika ia menolak, dan lega karena untuk sesaat tidak perlu menjelaskan apa pun.
Namun, ketenangan yang ia rasakan tidak bertahan lama. Di balik pelukan Leo, wajah Dona terus muncul dalam pikirannya. Ia teringat bagaimana sahabatnya meminta agar mereka bicara sebentar saja, tanpa pengawasan dan tanpa aturan. Ia juga teringat tatapan Dona ketika Maura memilih pergi.
Maura membuka mata dan memandang ke luar jendela.
Mobil telah meninggalkan tempat parkir. Jalanan terbentang di hadapannya, dipenuhi kendaraan yang bergerak menuju berbagai tujuan. Ia tahu dunia di luar masih berjalan seperti biasa. Orang-orang pergi bekerja, bertemu teman, dan membuat keputusan untuk diri mereka sendiri.
Sementara itu, ia merasa semakin jauh dari kehidupan yang dulu dikenalnya.
Mobil melaju menuju apartemen Leo. Maura tidak tahu apakah ia masih punya keberanian untuk meminta kembali ke rumah lamanya. Ia hanya tahu bahwa setiap kali mencoba membayangkan kehidupan tanpa Leo, rasa takut segera muncul dan membuatnya mengurungkan niat.
Di tempat parkir bawah tanah, Dona masih berdiri di balik tiang beton. Debu tipis yang terangkat saat mobil melaju perlahan turun kembali ke lantai. Ia menatap lorong yang kini kosong, berusaha menerima kenyataan bahwa upayanya tadi belum berhasil membawa Maura pergi.
Ia memang gagal menghentikan Leo hari itu. Namun, satu hal menjadi semakin jelas baginya: pria itu bukan hanya berusaha membuat Maura bergantung kepadanya. Ia juga siap mengancam siapa pun yang mencoba mengembalikan kebebasan wanita tersebut.