Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #23

Chapter tanpa judul #23

Malam pertama di apartemen Leo, Maura berusaha membiasakan diri dengan lingkungan barunya.

Tempat itu luas, bersih, dan hampir tidak memiliki barang yang tergeletak sembarangan. Lampu menyala otomatis ketika seseorang memasuki ruangan. Tirai jendela dapat dibuka dan ditutup dengan satu tombol, sementara pendingin udara menjaga suhu tetap sama sepanjang hari.

Semua tampak nyaman. Namun, Maura merasa harus berhati-hati setiap kali menyentuh sesuatu, seolah satu gerakan yang salah bisa merusak kerapian yang sudah disusun Leo.

Di pergelangan tangannya, gelang karet hitam itu kini memiliki fungsi tambahan. Gelang tersebut akan bergetar ketika Maura bergerak lebih dari sepuluh meter dari ponsel Leo.

Pertama kali merasakannya, Maura sedang berjalan ke balkon untuk mencari udara segar. Getaran pendek itu membuatnya berhenti dan menatap pergelangan tangannya.

Ia mencoba melanjutkan langkah, tetapi gelang tersebut kembali bergetar.

Maura menoleh ke arah pintu kaca. Leo sedang berada di ruang tengah, cukup jauh untuk tidak bisa menyentuhnya, tetapi ponselnya mungkin menerima pemberitahuan tentang posisi Maura.

Ia kembali masuk ke dalam.

Gelang itu bukan sekadar alat untuk memantau kondisi tubuh. Kini, benda tersebut juga mengingatkannya bahwa bahkan ketika berada sendirian di dalam rumah, ia tidak benar-benar bebas bergerak tanpa sepengetahuan Leo.

Apartemen yang luas dengan dinding kaca tinggi itu memang membuat Maura bisa melihat pemandangan kota dari hampir setiap sudut. Namun, pemandangan tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa kehidupan sehari-harinya semakin diatur.

Buku yang boleh dibacanya dipilih oleh Leo. Musik yang diputar di rumah juga ditentukan olehnya. Saat makan malam, Leo sering mengarahkan pembicaraan kepada topik-topik yang menurutnya membantu Maura memahami kondisi mentalnya. Jika Maura mencoba membicarakan pekerjaan atau teman-teman lamanya, ia akan mengingatkan bahwa hal-hal itu hanya membuat pikirannya kembali terbebani.

Sedikit demi sedikit, Maura terbiasa menghindari topik yang tidak disukai Leo. Ia tidak lagi perlu menunggu teguran untuk tahu apa yang sebaiknya tidak dibicarakan.

"Mulai besok pagi, aku mau kamu berhenti memeriksa naskah-naskah cerita fiksi dari kantor itu," kata Leo suatu malam sambil mengantarnya ke ruang kerja baru.

"Aku sudah bicara dengan kepala kantormu. Kamu akan bekerja dari dalam rumah saja sebagai orang yang memeriksa tulisan majalah kesehatan jiwa yang sedang aku buat. Tugas itu akan membantumu mengerti keadaan pikiranmu sendiri lewat bantuan ilmu pengetahuan."

Maura memandang ruangan di depannya.

Dindingnya dicat putih bersih. Sebuah meja kaca tebal berada di tengah ruangan, dengan kursi yang menghadap ke jendela besar. Beberapa tumpuk dokumen sudah disusun di salah satu sisi meja. Tidak ada barang pribadi, foto, atau buku yang biasanya ia letakkan di sekitar tempat kerja.

Leo menyebutnya ruang kerja, tetapi Maura tidak merasa sedang memasuki tempat yang akan memberinya kebebasan untuk berkarya. Ruangan itu lebih menyerupai tempat yang disiapkan untuk membuatnya sibuk dengan hal-hal yang dipilihkan orang lain.

Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan meja kaca. Wajah itu terlihat lelah. Matanya tidak lagi menunjukkan semangat yang biasa muncul ketika ia menemukan naskah menarik untuk dibaca.

Lihat selengkapnya