Dalam kehidupan yang ia susun, tidak ada tempat bagi kesedihan yang berlarut-larut. Kenangan buruk harus disingkirkan, kebiasaan yang dianggap merugikan harus diubah, dan orang-orang yang mengganggu proses itu tidak boleh diberi kesempatan untuk mendekat. Semua keputusan harus melalui dirinya. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang didengar Maura, satu-satunya tempat untuk meminta pertolongan, sekaligus satu-satunya orang yang dipercaya.
Maura kini telah masuk ke dalam kehidupan yang ia atur. Bagi Leo, tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Ia hanya sedang membantu Maura menjalani proses penyembuhan. Ia tidak pernah menganggap kesunyian yang diciptakannya sebagai bentuk hukuman, apalagi menyadari bahwa ia sedang membuat wanita itu semakin sulit membedakan antara perlindungan dan penguasaan.
Leo memandang pikiran manusia seperti bahan mentah yang bisa dibentuk sesuai kebutuhan. Dalam bayangannya, pikiran itu menyerupai besi yang harus dipanaskan sebelum dapat ditempa menjadi sesuatu yang berguna. Ia merasa perubahan tidak akan terjadi jika seseorang terus dibiarkan berpegang pada kebiasaan lama. Tekanan, menurutnya, justru diperlukan agar seseorang mau melepaskan apa yang selama ini menghambatnya.
Tujuh tahun masa berkabung Maura, dalam pandangan Leo, telah membuat wanita itu terjebak dalam kesedihan yang tak kunjung selesai. Ia melihat kesedihan itu seperti karat yang menutupi besi dan yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk membersihkannya. Ia hanya perlu memukul cukup keras sampai lapisan yang dianggapnya menghalangi itu terlepas.
Bagi Leo, kesembuhan bukanlah proses yang harus dijalani bersama dengan kesabaran dan kesediaan untuk mendengarkan. Ia menganggapnya sebagai persoalan yang perlu diselesaikan dengan tegas. Ketakutan Maura adalah sesuatu yang harus diperbaiki, dan ia merasa berhak menentukan cara terbaik untuk melakukannya.
Ia tidak terlalu memikirkan akibatnya. Jika Maura harus kehilangan sebagian kebiasaannya, ia menganggap itu pengorbanan yang wajar. Jika wanita itu menangis atau menolak, ia menganggapnya sebagai reaksi sementara yang akan berlalu setelah Maura terbiasa. Yang penting baginya, pada akhirnya Maura akan menjadi sosok yang sesuai dengan gambaran di kepalanya.
Leo juga tidak pernah menganggap kedekatan sebagai hubungan antara dua orang yang sama-sama memiliki hak untuk menentukan arah hidup mereka. Baginya, hubungan adalah sesuatu yang bisa diatur, diperbaiki, dan diarahkan. Ia yakin dirinya cukup teliti untuk mengetahui apa yang dibutuhkan Maura, bahkan ketika wanita itu sendiri mengatakan sebaliknya.
"Cara kejut," ucap Leo pelan sambil menatap cermin pada pagi itu.
Ia merapikan kerah kemeja sutranya, lalu mengusap bagian depan pakaian yang sebenarnya sudah licin tanpa kerutan. Gerakannya terukur, seperti seseorang yang sedang memastikan semua persiapan penting telah dilakukan. Hanya suara kain yang bergesekan terdengar di ruang kerja, sementara ia memeriksa penampilannya sekali lagi.
Di atas meja, daftar tamu undangan terletak di samping beberapa lembar susunan acara. Hampir semua nama sudah diberi tanda centang. Teman-temannya sesama dokter, sejumlah orang terpandang, dan kepala kantor tempat Maura dahulu bekerja telah memastikan kehadiran mereka.
Leo puas melihat daftar itu. Ia sendiri yang mengurus berbagai hal, mulai dari posisi kursi para tamu, pencahayaan ruangan, sampai urutan musik yang akan dimainkan. Tidak ada bagian yang ia serahkan begitu saja kepada orang lain tanpa pemeriksaan.
Setiap keputusan dibuat untuk menciptakan suasana yang sulit ditolak Maura. Ia ingin acara itu terlihat hangat, berkelas, dan penuh dukungan, sementara di baliknya semua orang telah ditempatkan sedemikian rupa sehingga Maura akan merasa tidak punya pilihan selain mengikuti rencana yang sudah disiapkan.
Kehadiran orang-orang penting itu menjadi bagian dari perhitungannya. Leo tahu Maura masih memikirkan pandangan orang lain dan tidak ingin mempermalukan siapa pun di depan umum. Ia akan memanfaatkan hal tersebut. Tidak perlu ada ancaman yang diucapkan terang-terangan jika rasa malu dan takut dinilai buruk sudah cukup untuk menahan seseorang agar tetap diam.
Ia menamai acara malam itu Malam Penghargaan untuk Ketangguhan Jiwa.
Nama itu terdengar pantas. Para tamu akan mengira mereka datang untuk merayakan perjuangan seorang wanita yang berhasil melewati masa sulit. Mereka akan melihat Leo sebagai pasangan yang setia mendampingi Maura, pria yang bersedia melakukan segala sesuatu demi kesembuhannya.