Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #25

Chapter tanpa judul #25

Tepat pukul satu siang, bel apartemen berbunyi.

Maura membuka pintu dan mendapati dua orang yang dikirim Leo: seorang penata rias dan seorang penata rambut. Keduanya membawa tas besar berisi perlengkapan. Setelah memperkenalkan diri dengan sopan, mereka segera masuk dan mulai menyiapkan peralatan di dekat cermin.

Tidak banyak percakapan di antara mereka. Penata rias mengeluarkan beberapa botol dan kuas, sementara rekannya mulai memeriksa rambut Maura. Mereka bekerja cepat, sesekali saling memberi isyarat tanpa perlu menjelaskan panjang lebar.

Maura duduk di kursi rias dan berusaha mengikuti arahan mereka. Wajahnya diarahkan ke kanan, lalu ke kiri. Rambutnya ditarik dan disisir berkali-kali sampai kulit kepalanya terasa perih. Setiap kali ia bergerak sedikit, penata rias memintanya kembali menghadap cermin.

Lapisan bedak tebal mulai menutupi wajahnya. Kuas menyapu pipi dan dahinya, menyamarkan warna kulit yang pucat. Maura ingin meminta mereka berhenti sejenak, tetapi kata-kata itu tertahan. Ia membiarkan pekerjaan tersebut berlangsung, menatap pantulan dirinya yang perlahan berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenal.

Ia merasa lebih mirip boneka pajangan daripada orang yang sedang bersiap menghadiri acara. Tubuhnya diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditata agar terlihat sempurna, sementara pendapatnya sendiri tidak pernah ditanyakan.

"Mbak Maura kelihatan cantik sekali," kata penata rias itu sambil mengoleskan pewarna bibir merah tua.

Warna tersebut mengingatkan Maura pada luka yang belum sempat mengering.

"Dokter Leo beruntung sekali punya pasangan seperti Mbak. Kata beliau, malam nanti adalah malam paling penting dan paling membahagiakan buat kalian berdua."

Maura menatap wajahnya sendiri di cermin besar. Riasan itu memang rapi. Garis matanya terlihat jelas, bibirnya berwarna pekat, dan tidak banyak bagian wajah yang menunjukkan betapa lelah dirinya. Namun, ia kesulitan mengenali perempuan yang sedang menatap balik dari dalam cermin.

"Malam paling penting?" tanyanya dengan suara serak.

"Iya, dong. Acara lamaran pertunangan yang mewah dan besar." Penata rias itu tersenyum sambil mengambil kuas lain. "Jarang ada laki-laki sukses dan baik seperti Dokter Leo yang mau mengurus semua keperluan acara sendiri. Beliau memikirkan semuanya, sampai hal-hal kecil, supaya pasangannya tidak perlu repot. Benar-benar kejutan manis. Kalian berdua kelihatan sangat cocok."

Maura tidak segera menjawab.

Acara lamaran pertunangan.

Ia mengulang kata-kata itu dalam hati, berusaha memahami apa yang baru saja didengarnya. Untuk beberapa saat, ia bahkan mengira dirinya salah menangkap ucapan wanita itu.

Pertunangan?

Leo tidak pernah meminta persetujuannya. Pria itu tidak pernah membicarakan rencana tersebut, apalagi menanyakan apakah Maura siap melangkah sejauh itu. Ia langsung menyiapkan acara, mengundang orang-orang, memilih pakaian, dan mengatur siapa yang akan datang untuk mendandaninya.

Semua keputusan telah dibuat sebelum Maura mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ini bukan lagi soal hubungan mereka atau cara Leo membantu dirinya mengatasi kesedihan. Leo sedang berusaha mengikat Maura ke dalam kehidupan yang telah ia rancang, tanpa memberi kesempatan kepada wanita itu untuk menentukan pilihannya sendiri.

Lihat selengkapnya