Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #26

Chapter tanpa judul #26

Begitu penata rias dan penata rambut beranjak ke ruangan lain untuk membereskan perlengkapan, Maura berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu merosot ke lantai marmer.

Napasnya memburu. Kedua tangannya mencengkeram lutut, sementara gaun sutra putih tergeletak di sampingnya. Ia meraih kain itu dan menggenggamnya erat-erat sampai jemarinya memutih.

"Apakah aku yang gila?" bisiknya.

Suaranya terdengar jelas di dalam kamar mandi yang tertutup.

"Benarkah aku cuma membayangkan bahaya ini? Leo bilang semua ini demi kebaikanku. Kenapa aku justru merasa semakin takut?"

Ia menunduk dan mencoba menenangkan diri. Lantai yang dingin menyentuh kulit kakinya, tetapi tidak banyak membantu mengusir kegelisahan yang terus memenuhi pikirannya. Aroma aftershave Leo masih tertinggal di ruangan itu, menempel pada handuk dan perlengkapan mandi. Bahkan ketika pria itu tidak ada di dekatnya, kehadirannya seolah masih menguasai ruang yang ditempati Maura.

Ia merasa terjepit di antara dua hal yang sama-sama sulit dihadapi.

Di satu sisi, ada kenangan tentang Dika dan rasa bersalah yang belum selesai ia terima. Ia masih menyimpan banyak pertanyaan tentang masa lalu, tentang apa yang terjadi, dan tentang hal-hal yang seandainya bisa ia ubah.

Di sisi lain, ada Leo, yang terus mendorongnya menuju masa depan yang tidak pernah ia pilih. Pria itu telah menyiapkan jalan yang terlihat sempurna, tetapi setiap langkah di dalamnya membuat Maura kehilangan kesempatan untuk menentukan arah sendiri.

Perlahan, Maura mulai memahami bahwa persoalannya bukan sekadar rasa takut untuk bertunangan. Ini bukan tentang keraguan biasa menjelang keputusan besar. Leo telah menyusun acara itu tanpa persetujuannya dan menggunakan alasan penyembuhan untuk membuatnya merasa tidak berhak menolak.

Ia ingin mengikat Maura di depan umum, di bawah lampu kristal dan tatapan orang-orang terpandang. Dengan begitu, jika Maura berubah pikiran, ia akan menghadapi bukan hanya Leo, melainkan juga penilaian dari semua orang yang menyaksikan acara tersebut.

Maura tahu betapa mudahnya Leo mengubah penolakannya menjadi alasan untuk menyebutnya belum stabil. Ia bisa mengatakan bahwa Maura sedang dikuasai trauma, tidak mampu mengambil keputusan, atau membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Bahkan dalam pikirannya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana Leo akan menafsirkan setiap reaksinya.

Jika ia menangis, Leo bisa menyebutnya tidak stabil secara emosional. Jika ia berteriak, pria itu mungkin akan menganggapnya mengalami gangguan yang lebih serius. Jika ia tidak menjawab, diamnya bisa dianggap sebagai tanda bahwa ia tidak mampu merespons keadaan dengan baik.

Apa pun yang dilakukannya berisiko dipakai untuk mendukung cerita yang sudah disiapkan Leo.

Ia tidak tahu bagaimana menghadapi seseorang yang selalu menganggap dirinya paling berhak menentukan apa yang benar. Leo memiliki akses kepada orang-orang yang menghormatinya, mengetahui cara berbicara dengan istilah medis, dan terbiasa membuat pendapatnya terdengar meyakinkan. Maura takut orang-orang akan lebih percaya kepadanya daripada kepada dirinya sendiri.

"Temboknya..." Maura terisak sambil meremas gaun itu. "Temboknya berdiri lagi. Kali ini putih, bersih, indah... dan tidak ada celahnya."

Dahulu, tembok yang mengurungnya terbentuk dari rasa bersalah atas kematian Dika. Tembok itu gelap dan penuh kenangan buruk, tetapi masih ada bagian yang bisa ia lewati. Ia masih dapat bekerja, bertemu orang lain, dan mencoba membangun hidupnya meskipun kesedihan selalu menyertainya.

Sekarang, Leo sedang membangun tembok yang berbeda. Semuanya tampak bersih, teratur, dan meyakinkan. Orang-orang di luar mungkin akan melihat kehidupan yang nyaman, pasangan yang saling mendukung, serta seorang pria yang bersedia melakukan apa saja demi wanita yang dicintainya.

Lihat selengkapnya