Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #27

Chapter tanpa judul #27

Selama ini, Leo selalu menganggap dirinya orang yang paling tahu apa yang dibutuhkan Maura. Ia mengira ketakutan bisa diatasi dengan tekanan, kesedihan bisa disingkirkan dengan aturan, dan hubungan bisa dibuat berhasil selama semua bagian di dalamnya berjalan sesuai rencana.

Maura tidak tahu apakah ia mampu mengubah keadaan malam itu. Ia juga belum menemukan cara untuk keluar dari pengaruh Leo. Namun, ia mulai menyadari bahwa ia tidak harus membuktikan apa pun kepada pria itu hanya karena Leo terus menuntutnya.

Ia tidak harus menerima pertunangan hanya untuk menunjukkan bahwa ia sudah sembuh. Ia tidak harus melupakan Dika demi membuat Leo senang. Dan ia tidak harus menganggap semua keputusan Leo sebagai bentuk kasih sayang.

Pikiran itu belum menghilangkan ketakutannya. Jantungnya masih berdegup cepat, telapak tangannya lembap, dan gelang di pergelangan tangannya kembali bergetar.

Zzt... Zzt...

Maura melihat lampu merah pada gelang itu. Dahulu, getaran tersebut selalu membuatnya segera memeriksa napas dan mencoba menenangkan diri karena takut Leo akan mengetahui bahwa ia sedang gelisah. Sekarang, ia hanya menatapnya selama beberapa detik.

Ia tidak bisa menghentikan alat itu mengirimkan data. Ia juga belum bisa memutuskan semua hubungan yang mengikatnya dengan Leo. Namun, setidaknya ia mulai memahami bahwa angka-angka di layar ponsel pria itu tidak bisa menjelaskan seluruh isi pikirannya.

Kecemasan bukan berarti ia tidak waras. Keraguan bukan berarti ia tidak mampu mengambil keputusan. Dan rasa takut yang muncul saat seseorang memaksakan kehendaknya bukanlah bukti bahwa ia membutuhkan lebih banyak kendali dari orang tersebut.

Maura meletakkan bros di atas meja, lalu memandang gaun putih yang tergeletak di ranjang. Ia masih belum tahu apa yang akan ia lakukan ketika tiba di tempat acara. Ia hanya tahu bahwa malam itu akan menjadi sesuatu yang sulit dilupakan, apa pun yang terjadi.

Jika Leo menginginkan acara yang sempurna, ia mungkin akan mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan harapannya. Bukan karena Maura sudah memiliki rencana yang matang, melainkan karena ia tidak lagi ingin menyerahkan setiap keputusan tanpa mempertanyakannya.

Ia mengangkat kepala dan mencoba menarik napas dengan lebih tenang. Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan Leo, ia tidak berusaha menekan semua perasaannya hanya agar terlihat baik-baik saja.

Ia ingin bertahan. Ia ingin mempertahankan dirinya sendiri, meskipun belum tahu bagaimana caranya.

***

Klakson terdengar lagi dari bawah gedung. Kali ini lebih panjang dan mendesak.

Maura tetap berdiri di dekat meja. Gaun sutra putih itu masih berada di atas ranjang, belum ia kenakan. Ia memandangnya tanpa segera bergerak, sementara pikirannya terus berputar di antara rasa takut dan keinginan untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Langkahnya kemudian membawanya kembali ke kamar mandi. Ia menutup pintu, bukan untuk bersembunyi dari Leo, melainkan karena membutuhkan beberapa saat tanpa harus melihat gaun itu atau memikirkan apa yang akan dikatakan orang-orang di tempat acara.

Ia duduk di tepi bak mandi dan menunduk. Tubuhnya terasa lelah setelah berjam-jam menahan kegelisahan. Ia tidak menangis lagi, tetapi air mata yang tadi sempat mengalir meninggalkan garis tipis di pipinya, menghapus sebagian riasan yang menempel.

Maura menyentuh wajahnya sendiri. Ia masih mengenali kulit, mata, dan bibirnya. Namun, selama beberapa minggu terakhir, ia sering merasa bahwa hidupnya tidak lagi benar-benar berada di tangannya. Orang lain mengatur jadwalnya, menentukan siapa yang boleh ditemui, memeriksa keadaannya, dan menafsirkan perasaannya.

Ia tidak ingin terus hidup seperti itu.

Lihat selengkapnya