Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #28

Chapter tanpa judul #28

Pukul delapan malam, acara utama seharusnya dimulai.

Leo berjalan menuju podium kecil di depan ballroom. Ia berdiri di belakang mikrofon, membetulkan posisi jasnya, lalu berdeham singkat. Percakapan para tamu perlahan berhenti. Satu per satu kepala berbalik ke arahnya hingga seluruh perhatian tertuju pada panggung.

Lampu sorot jatuh tepat di wajahnya. Leo menikmati saat itu. Ia terbiasa berbicara di depan orang banyak, dan ia menyukai perasaan ketika semua orang mendengarkan tanpa menyela. Malam ini, ia telah menyiapkan kata-kata yang menurutnya akan membuat para tamu semakin menghormatinya.

Ia menganggap podium itu sebagai tempat untuk menunjukkan keberhasilannya. Para tamu yang hadir akan menjadi saksi bahwa ia telah membantu seorang perempuan melewati masa sulit dan membawanya menuju kehidupan baru.

"Terima kasih telah hadir malam ini," ucapnya.

Suaranya terdengar jelas melalui pengeras suara.

"Banyak yang bertanya mengapa saya mengadakan acara semegah ini. Jawabannya sederhana. Malam ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa melewati masa paling gelap dalam hidupnya. Ada seseorang yang sangat berharga bagi saya. Dia telah melewati masa yang berat, menghadapi kehilangan, dan berjuang untuk kembali menjalani hidupnya."

Leo berhenti sejenak. Ia membiarkan para tamu menyimak sebelum melanjutkan.

"Malam ini, di hadapan kalian semua, saya ingin mengajaknya melangkah lebih jauh. Saya ingin memintanya menjadi pendamping hidup saya."

Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Beberapa tamu berseru gembira, sementara yang lain saling tersenyum dan ikut bertepuk tangan.

Leo membalas sambutan itu dengan anggukan. Ia lalu menoleh ke arah pintu masuk besar yang masih tertutup.

Sopir telah menerima instruksi agar membawa Maura masuk tepat setelah pidato selesai. Leo membayangkan perempuan itu muncul dengan gaun putih yang dipilihnya, berjalan melewati karpet merah di bawah sorot lampu, lalu berdiri di sisinya. Ia telah memikirkan setiap bagian dari adegan tersebut, mulai dari musik yang akan mengiringi kedatangan Maura sampai posisi tempat mereka berdiri ketika cincin dikeluarkan.

Bagi Leo, momen itu bukan sekadar lamaran. Ia ingin semua orang melihat hasil dari apa yang ia anggap sebagai keberhasilannya mendampingi Maura. Perempuan yang dahulu dilihatnya sebagai seseorang yang tenggelam dalam kesedihan kini akan tampil di hadapan para tamu dengan penampilan sempurna, berdiri di samping pria yang menurutnya telah membantunya bangkit.

Ia bahkan membayangkan Maura akan menerima cincin itu tanpa ragu, mengakui bahwa Leo telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Bayangan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa semua persiapannya akan berjalan sesuai rencana.

Pintu besar ballroom akhirnya terbuka.

Namun, bukan Maura yang muncul.

Seorang pria berseragam sopir masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya pucat, dan napasnya belum teratur ketika ia mencari Leo di dekat podium. Ia mengabaikan tatapan para tamu, lalu menghampiri panggung dan membungkuk untuk membisikkan sesuatu.

Senyum Leo perlahan hilang.

Lihat selengkapnya