Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #29

Chapter tanpa judul #29

Di ballroom hotel, kabar ketidakhadiran Maura mulai menyebar di antara para tamu.

Beberapa orang mendekati rekan yang berdiri di samping mereka dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ada yang memandang ke arah pintu, berharap Maura hanya terlambat. Yang lain mulai menyadari bahwa Leo tidak lagi berdiri dengan sikap tenang seperti ketika menyampaikan pidatonya.

Ia masih berada di dekat podium, tetapi pikirannya sudah tidak lagi tertuju pada acara. Ia bisa merasakan tatapan para tamu yang menunggu penjelasan. Bisik-bisik mulai terdengar dari beberapa sudut ruangan.

Rasa malu merambat dari tengkuknya hingga ke wajah. Selama ini, Leo membangun citra sebagai seorang dokter yang mampu memahami dan menangani masalah yang sulit dihadapi orang lain. Ia terbiasa berbicara dengan yakin, memberi penjelasan yang terdengar masuk akal, dan membuat orang percaya bahwa ia tahu apa yang harus dilakukan.

Kini, perempuan yang seharusnya menjadi pusat perayaan itu tidak muncul. Ia bahkan meninggalkan gaun yang telah disiapkan khusus untuknya.

Leo melihat beberapa koleganya saling bertukar pandang. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan, tetapi ia mulai membayangkan penilaian mereka terhadap dirinya. Mungkin mereka menganggapnya tidak mampu menjaga hubungannya sendiri. Mungkin mereka bertanya-tanya apakah kisah tentang kesembuhan Maura yang selama ini ia ceritakan memang benar.

Bagi Leo, kemungkinan itu terasa lebih menyakitkan daripada penolakan pribadi.

Ia turun dari podium tanpa memberikan penjelasan yang memadai. Seorang kolega mencoba menghampiri dan menanyakan apakah ia membutuhkan bantuan, tetapi Leo hanya mengangkat tangan sekilas sebelum terus berjalan.

Ia tidak ingin menjawab pertanyaan. Ia juga tidak sanggup berdiri di tengah ruangan sambil berpura-pura bahwa semuanya masih terkendali.

Langkahnya semakin cepat ketika ia melewati pintu menuju koridor hotel. Ia tidak menghiraukan manajer acara yang memanggil dari belakang atau para pelayan yang menyingkir agar memberinya jalan. Ia hanya ingin mencapai mobilnya.

Di parkiran bawah tanah, Leo membuka pintu mobil dengan kasar dan duduk di balik kemudi. Ia menyalakan mesin, lalu memandangi kaca depan selama beberapa detik. Napasnya pendek-pendek, dan tangannya mencengkeram setir lebih kuat daripada biasanya.

Di kepalanya, pertanyaan yang sama terus muncul.

Di mana Maura?

Ia mencoba menyusun kemungkinan. Maura tidak mungkin pergi begitu saja tanpa alasan, pikirnya. Perempuan itu pasti sedang mengalami ketakutan yang membuatnya mengambil keputusan buruk. Mungkin ia mencari seseorang. Mungkin ia kembali ke tempat yang mengingatkannya pada Dika.

Leo tidak mau menganggap kepergian itu sebagai keputusan sadar yang dibuat Maura karena menolak hidup bersamanya. Ia lebih mudah percaya bahwa perempuan itu sedang kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.

"Dia pasti kembali ke hantu itu," desisnya sambil menyalakan lampu mobil.

Mesin meraung ketika ia menginjak pedal gas. Ban mobil berdecit saat kendaraan itu bergerak keluar dari tempat parkir. Leo tidak lagi berusaha mempertahankan sikap tenang yang tadi ia tunjukkan kepada para tamu. Ia hanya ingin menemukan Maura dan membawa perempuan itu kembali.

Selama ini, ia menggunakan pengetahuan psikologinya untuk menafsirkan perilaku Maura. Sekarang, ia mulai menggunakannya untuk mencari cara agar perempuan itu tidak bisa menghindarinya lagi.

Ia mencoba mengingat tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan masa lalu Maura. Tempat kerja, rumah teman, lingkungan yang pernah ia kunjungi bersama Dika, dan lokasi yang mungkin masih menyimpan kenangan penting. Ia berusaha menyusun kemungkinan satu demi satu, tetapi rasa marah membuatnya semakin sulit berpikir jernih.

Dalam benaknya, Maura bukan lagi seseorang yang berhak menolak. Ia telah mengubah perempuan itu menjadi bagian dari rencana hidupnya, dan kepergiannya terasa seperti pembangkangan yang harus segera dihentikan.

Leo ingin menemukannya, membawanya kembali, lalu membuat semua orang percaya bahwa ketidakhadirannya malam ini hanyalah akibat dari kecemasan sesaat. Jika Maura kembali dalam keadaan tenang, ia bisa menjelaskan bahwa dirinya telah berhasil membantu perempuan itu melewati krisis.

Ia ingin mengembalikan kendali atas cerita yang selama ini ia sampaikan kepada orang lain.

Lihat selengkapnya