Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #30

Chapter tanpa judul #30

Hujan semakin deras.

Air menghantam kaca depan, atap, dan kap mobil. Wiper bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lain, tetapi pandangan Leo tetap terbatas. Lampu depan hanya menerangi sebagian jalan, sementara genangan air menutupi lubang-lubang yang sulit terlihat.

Leo tidak mengurangi kecepatan.

Jalan di depannya tampak seperti pita hitam yang licin. Cahaya kendaraan dari arah berlawanan muncul dan menghilang di balik tirai hujan. Ia terus menginjak pedal gas, merasa harus segera sampai sebelum Maura sempat pergi lagi.

Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun kalimat-kalimat yang akan diucapkan saat mereka bertemu.

Ia tidak akan meminta maaf. Ia akan mengatakan bahwa tindakan Maura malam ini membuktikan bahwa perempuan itu belum pulih. Ia akan menyebut kepergiannya sebagai tanda bahwa ia membutuhkan penanganan yang lebih ketat.

Leo bahkan mulai memikirkan sebuah rumah perawatan pribadi di daerah pegunungan, jauh dari keramaian kota. Tempat itu akan jauh dari jangkauan Dona, teman-teman Maura, dan lingkungan penerbitan tempat perempuan itu dahulu bekerja.

Di sana, menurut rencananya, Maura akan tinggal dalam pengawasan penuh. Leo akan menjadi dokternya, mengatur makanannya, menentukan kegiatan hariannya, dan memastikan bahwa tidak ada orang yang bisa mengganggu proses yang ia sebut penyembuhan. Ia ingin menciptakan kehidupan yang hanya melibatkan mereka berdua, tanpa campur tangan siapa pun.

Ia tidak melihat bahwa rencana itu berarti menghilangkan hampir seluruh kebebasan Maura.

"Aku akan menempatkanmu di tempat yang aman," bisiknya sambil menatap jalan. "Di sana, kamu tidak akan bisa menghancurkan dirimu sendiri lagi."

Ia tersenyum tipis, lalu menambahkan, "Kamu akan belajar menyukai tempat itu. Di luar sana, kamu hanya akan kembali terluka."

Senyum tersebut tidak lagi menunjukkan keramahan yang biasa ia tampilkan di hadapan orang lain. Leo telah berhenti membedakan antara melindungi seseorang dan menahannya agar tidak pergi. Baginya, mencintai Maura berarti memiliki hak untuk menentukan semua hal, termasuk siapa yang boleh ditemui perempuan itu dan ke mana ia boleh melangkah.

Ponsel di saku jasnya bergetar.

Leo mengeluarkannya sekilas. Nama Dona muncul di layar.

Ia mendengus kesal. Ia tidak ingin berbicara dengan orang yang selama ini dianggapnya sebagai pengaruh buruk bagi Maura. Ia juga tidak ingin mendengar pertanyaan yang mungkin akan membuatnya semakin sulit mempertahankan alasan atas tindakannya.

Tanpa mengangkat panggilan itu, ia melemparkan ponsel ke kursi belakang.

Ia ingin Dona berhenti mengganggu urusannya. Ia ingin suara orang-orang yang menyayangi Maura tidak lagi bisa menjangkau perempuan itu. Selama ini, ia menganggap hubungan Maura dengan orang lain sebagai sesuatu yang bisa menghalangi kedekatan mereka. Sekarang, ia ingin memutus semua pengaruh tersebut agar tidak ada lagi yang bisa membantu Maura menjauh.

Mobil memasuki jalan yang semakin sempit menuju pinggiran kota. Lampu jalan jarang ditemukan, dan beberapa di antaranya hanya menyala redup. Pohon-pohon di tepi jalan membentuk bayangan panjang di atas genangan air.

Ban mobil menghantam sebuah lubang. Kendaraan itu berguncang, tetapi Leo justru menginjak gas lebih dalam.

Ia merasa waktu semakin sempit. Dalam pikirannya, Maura sedang menunggu untuk ditemukan, dan ia harus sampai sebelum perempuan itu menghilang lagi. Ia tidak memikirkan bahwa jalan yang licin dan pandangan yang terbatas bisa membahayakan dirinya maupun orang lain.

Di kejauhan, sebuah cahaya terang muncul dari arah berlawanan.

Lihat selengkapnya