Di tempat lain, Maura duduk di teras rumah lama Dika ketika perasaan tenang yang sulit dijelaskan tiba-tiba datang. Ia belum mengetahui kecelakaan yang merenggut nyawa Leo. Tidak ada kabar yang sampai kepadanya, tidak ada pula orang yang memberitahunya bahwa pengejaran itu telah berakhir.
Yang ia rasakan hanya perubahan kecil dalam dirinya. Setelah bertahun-tahun hidup dengan ketakutan bahwa seseorang akan datang mencarinya, malam itu ia bisa duduk tanpa terus-menerus memikirkan siapa yang sedang mengawasi atau apa yang harus ia lakukan agar tidak membuat orang lain marah.
Ia tidak tahu bahwa di sebuah persimpangan jalan yang mengarah ke masa lalunya, Leo telah meninggal di dalam mobil yang hancur.
Dari teras, Maura memandangi air hujan yang jatuh dari ujung atap. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa bau tanah basah dari halaman yang dipenuhi tanaman liar. Beban yang selama ini menekan dadanya terasa sedikit berkurang. Ia tidak lagi harus memikirkan gelang pelacak di pergelangan tangan, pesan yang harus segera dibalas, atau suara Leo yang akan menanyakan ke mana ia pergi.
Ia juga tidak lagi merasa harus meminta maaf kepada Dika karena masih mengingatnya.
Maura tetap perempuan yang pernah kehilangan seseorang dan merasa dirinya tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa mengakui bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri. Ia tidak perlu menjadi perempuan yang Leo inginkan hanya agar orang lain menganggapnya sudah sembuh.
Dari kejauhan, suara sirene ambulans terdengar menyusuri jalan raya. Suaranya makin keras, lalu perlahan menjauh. Maura tidak tahu ke mana kendaraan itu pergi atau siapa yang akan dibawanya. Ia hanya tetap duduk di teras, memandang halaman yang mulai gelap.
Ketika akhirnya berdiri, ia melangkah meninggalkan kursi kayu tempatnya duduk. Ia belum tahu apa yang akan dilakukan esok hari. Ia hanya tahu bahwa untuk saat ini, tidak ada seorang pun yang menyuruhnya ke mana harus pergi.
Namun, kebebasan yang ia rasakan malam itu tidak berlangsung lama tanpa gangguan.
***
Hujan sudah mereda menjadi gerimis ketika cahaya pagi mulai muncul di atas Jakarta.
Maura masih duduk di teras rumah lama Dika. Jaket hitam yang dikenakannya lembap, sementara matanya bengkak setelah menangis. Ia belum tidur. Meski tubuhnya lelah, ia belum ingin meninggalkan tempat itu.
Selama beberapa jam terakhir, ia tidak lagi merasa dikejar oleh rasa bersalah yang biasanya membuat dadanya sesak. Ia bisa menarik napas panjang tanpa segera teringat pada wajah Dika atau suara Leo yang mengingatkan apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.
Pagi itu, langit tampak abu-abu. Air hujan menetes dari ujung atap seng berkarat, jatuh satu per satu ke tanah. Dari jalan di luar pagar, sesekali terdengar kendaraan melintas. Selebihnya, rumah itu cukup tenang untuk membuat Maura mendengar suara napasnya sendiri.
Ia sempat mengira kepergiannya dari apartemen Leo telah menyelesaikan semuanya. Gelang pelacak yang dihancurkannya sudah tidak bisa digunakan lagi. Ia telah meninggalkan tempat yang selama berbulan-bulan membuatnya merasa seperti orang yang harus selalu memberikan laporan atas hidupnya sendiri.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil polisi berhenti di depan pagar besi yang hampir tertutup tanaman liar.
Lampu biru di atas mobil berputar, menyapu dinding rumah yang kusam. Mesin kendaraan dimatikan. Maura menatap mobil itu beberapa saat sebelum rasa tidak nyaman menjalar dari perut ke dadanya.