Rumah sakit menyambut Maura dengan bau cairan pembersih yang tajam dan udara dari pendingin ruangan yang membuat kulitnya meremang. Seorang petugas mengantarnya menuju kamar jenazah. Di dalam ruangan itu, sebuah tubuh terbaring di atas meja besi dengan kain putih menutupi wajahnya.
Petugas medis menarik kain tersebut perlahan.
Maura berdiri beberapa langkah dari meja. Ruangan bercat putih itu mengingatkannya pada ruang kerja yang dulu disiapkan Leo di apartemen. Semuanya bersih, terang, dan tertata. Perbedaan antara kedua tempat itu terasa menyakitkan: ruangan yang dahulu digunakan Leo untuk mengawasi hidupnya kini hanya berisi tubuh seorang pria yang tidak akan pernah lagi membuka mata.
Leo tidak tampak seperti orang yang biasa ia kenal. Wajah yang selama ini selalu terjaga penampilannya kini pucat. Tidak ada senyum sopan yang ia tunjukkan di hadapan orang lain, tidak ada tatapan yang membuat Maura merasa setiap jawabannya sedang diperiksa. Luka robek terlihat di pelipisnya, bekas benturan yang merenggut nyawanya.
Di atas meja kayu di samping jenazah, petugas meletakkan kantong plastik transparan berisi barang-barang pribadi Leo. Ada dompet kulit, ponsel dengan layar pecah, dan kotak cincin beludru merah yang sudah kotor oleh lumpur.
Maura menatap kotak itu cukup lama.
Cincin tersebut seharusnya menjadi lambang keberhasilan Leo. Ia telah merencanakan acara pertunangan, memilih pakaian untuk Maura, dan membayangkan bagaimana perempuan itu akan berdiri di hadapan para tamu lalu menerima lamarannya. Leo ingin semua orang melihat bahwa ia berhasil membawa Maura keluar dari masa lalunya.
Kini, cincin itu tidak akan pernah sampai ke tangan Maura sebagai tanda janji mereka.
Tatapannya beralih ke ponsel Leo yang rusak. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada detik-detik terakhir sebelum tabrakan. Apakah Leo sempat merasa takut? Apakah ia menyadari bahwa mobilnya tidak lagi bisa dikendalikan? Atau pikirannya masih dipenuhi keinginan untuk menemukan Maura dan membawanya pulang?
Ia tidak akan pernah mengetahui jawabannya.
Maura melangkah mendekat. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh ujung kain putih yang menutupi tubuh Leo.
“Kamu pernah bilang punya kunci untuk mengatur hidupku, Leo,” bisiknya. Suaranya serak, tertahan oleh tangis yang belum keluar. “Kamu bilang mau menyembuhkan pikiranku. Tapi sekarang kamu melakukan hal yang sama seperti Dika. Kamu pergi dan meninggalkan semua ini untuk kutanggung sendiri.”
Ia berhenti. Matanya tertuju pada wajah Leo, menunggu sesuatu yang tentu saja tidak akan datang. Tidak ada jawaban, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada kesempatan untuk bertanya mengapa Leo merasa berhak menentukan seluruh hidupnya.
Rasa marah mulai bercampur dengan kesedihan yang sulit ia pahami. Maura tidak menyangka akan berdiri di depan tubuh Leo seperti ini. Ia pernah takut pada pria itu, membencinya, dan berharap bisa lepas darinya. Namun, ia tidak pernah membayangkan kebebasannya akan datang melalui kematian.
Leo pergi tanpa mengakui kesalahannya. Ia tidak sempat mendengar Maura mengatakan bahwa pengawasan bukanlah kasih sayang, bahwa mengatur seseorang bukan berarti memahami orang itu. Semua yang belum sempat dibicarakan kini menjadi beban yang harus dibawa Maura sendiri.
Kematian Leo juga tidak menghapus apa yang telah terjadi di antara mereka. Bagi orang lain, Leo mungkin akan dikenang sebagai dokter yang cerdas, seorang pria sukses yang meninggal dalam kecelakaan tragis. Maura tahu ada sisi lain dari pria itu yang tidak akan pernah terlihat oleh para tamu di acara pertunangannya.
Leo ingin menghapus kenangan Maura tentang Dika agar tidak ada laki-laki lain yang menempati pikirannya. Sekarang, kematiannya justru menambahkan satu lagi nama yang tidak bisa Maura singkirkan begitu saja.