Sore harinya, Maura kembali ke apartemen Leo untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal. Tempat itu pernah menjadi bagian dari rutinitasnya selama berbulan-bulan. Kini, ketika ia membuka pintu dan masuk, apartemen tersebut terasa seperti bangunan yang ditinggalkan penghuninya tanpa sempat membereskan apa pun.
Ia melewati ruang tamu dan berhenti di depan ruang kerja berwarna putih yang dahulu disiapkan Leo untuknya. Buku-buku tentang kesehatan jiwa masih tersusun rapi di rak. Meja kaca tetap berada di tempatnya. Tidak ada yang berubah, tetapi ruangan itu tidak lagi terasa seperti milik seseorang yang sedang menunggu Maura kembali.
Ia masih bisa membayangkan suara Leo ketika memintanya duduk, menanyakan apa yang dipikirkannya, lalu menjelaskan bagaimana ia seharusnya mengatasi perasaan tertentu. Kenangan itu muncul begitu saja ketika Maura melihat kursi di dekat meja.
Ia segera mengalihkan pandangan.
Debu tipis mulai terlihat di permukaan meja kaca. Hanya sedikit, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa tidak ada orang yang membersihkannya sejak Leo meninggal. Maura memandangi debu itu, lalu menyadari bahwa untuk pertama kalinya ia bisa berada di ruangan tersebut tanpa harus menjawab pertanyaan siapa pun.
Ia mengambil kardus dan mulai memasukkan pakaian serta barang-barang pribadinya. Gerakannya lambat karena ia masih lelah. Sesekali ia berhenti untuk memeriksa apakah ada benda yang tertinggal di laci atau di bawah meja.
Di lantai, ia menemukan gelang pelacak karet hitam yang dihancurkannya malam sebelumnya. Potongan-potongan kecilnya berserakan di dekat dinding. Maura membungkuk, mengambil salah satunya, lalu menjatuhkannya kembali ke lantai. Benda itu pernah membuatnya merasa bahwa bahkan ketika sedang sendirian, seseorang tetap mengawasi tubuh dan kehidupannya.
Ia tidak ingin menyentuhnya lagi.
Saat membereskan tumpukan kertas, Maura menemukan naskah majalah kesehatan jiwa yang pernah ia periksa atas permintaan Leo. Beberapa halaman dipenuhi coretan tangan. Ia membalik lembar demi lembar, lalu menemukan sebuah catatan kecil di halaman terakhir yang belum pernah ditunjukkan Leo kepadanya.
Tulisan itu berbunyi:
“Kesembuhan pikiranmu adalah keberhasilan yang paling besar buat hidupku, Maura. Karena kalau aku bisa memperbaiki jiwamu yang rusak, itu artinya aku bisa mengatur segala hal lain di dunia ini dengan kepintaranku. Kamu adalah bukti kalau aku bisa menang melawan takdir.”
Maura membaca kalimat tersebut sekali lagi. Setelah itu, ia merobek kertas itu menjadi beberapa bagian. Ia terus merobeknya sampai tulisan Leo terpecah menjadi potongan-potongan kecil yang tidak lagi bisa dibaca.
“Kamu salah besar, Leo,” bisiknya.
Ia menatap sobekan kertas di tangannya.
“Kamu tidak pernah menang melawan takdir. Kamu cuma menganggap hidupku sebagai bukti bahwa kamu bisa melakukan apa saja.”
Potongan-potongan kertas itu jatuh ke lantai. Maura melihatnya berserakan di dekat kakinya. Bahkan setelah meninggal, Leo masih meninggalkan kata-kata yang menempatkan dirinya sebagai orang paling penting dalam hidup Maura. Tidak ada kalimat tentang apa yang sebenarnya Maura inginkan. Tidak ada pengakuan bahwa perempuan itu memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri.
Bagi Leo, Maura bukan sekadar orang yang ia sayangi. Ia adalah bukti keberhasilan, sebuah piala yang bisa ia tunjukkan kepada dunia untuk membuktikan kepintarannya. Kini, orang yang ingin memenangkan piala itu sudah meninggal, tetapi Maura masih harus menghadapi akibat dari cara Leo memperlakukannya.