Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #34

Chapter tanpa judul #34

Suara dari luar membuatnya tidak terlalu lama mendengar pikirannya sendiri. Ketika jalanan ramai, ia bisa duduk di depan meja kecil dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa terus-menerus mengingat percakapan dengan Leo atau kabar yang disampaikan polisi pagi itu. Ia membiarkan suara kendaraan memenuhi kamar, menutupi penyesalan yang muncul tanpa diundang.

Namun, ketika malam semakin larut dan suara jalanan mulai berkurang, pikirannya kembali dipenuhi hal-hal yang berusaha ia lupakan.

Ia sering duduk di tepi kasur, menatap pintu atau dinding tanpa melakukan apa-apa. Tidak ada yang menunggunya pulang, tidak ada pesan yang harus segera dijawab, dan tidak ada seseorang yang akan datang memeriksa kegiatannya. Seharusnya ia merasa lega. Namun, kebebasan itu tidak serta-merta membuatnya bahagia.

Maura menjalani hari-harinya tanpa banyak keinginan. Ia bangun, membuat sesuatu untuk dimakan, membuka laptop, menyelesaikan pekerjaan, lalu berbaring ketika matanya mulai lelah. Ia tidak lagi merencanakan sesuatu untuk bulan depan atau tahun berikutnya. Yang penting baginya adalah melewati satu hari tanpa harus menghadapi kejadian yang mengingatkannya pada dua kematian tersebut.

Ia bekerja dari rumah sebagai penyunting naskah yang bertugas memeriksa kesalahan ketik dan memperbaiki kalimat-kalimat dalam buku petunjuk. Pekerjaan itu memberinya penghasilan sekaligus alasan untuk tidak sering keluar kamar. Ia bisa menyelesaikan tugas melalui laptop, mengirim hasilnya kepada klien, lalu menunggu pekerjaan berikutnya tanpa perlu bertemu banyak orang.

Naskah yang ia periksa bermacam-macam. Ada buku petunjuk penggunaan mesin cuci yang menjelaskan langkah-langkah pengoperasian, panduan pengobatan yang berisi istilah medis, hingga laporan keuangan tahunan dengan halaman-halaman penuh angka. Tidak ada cerita pribadi di dalamnya. Tidak ada tokoh yang kehilangan orang terkasih atau seseorang yang harus memilih antara bertahan dan pergi.

Maura menyukai hal itu.

Ia sengaja memilih pekerjaan yang berurusan dengan kalimat-kalimat langsung dan tidak banyak mengundang tafsir. Ia bisa memeriksa apakah sebuah kata salah ketik, apakah tanda baca sudah benar, atau apakah petunjuk penggunaan mudah dipahami. Jika menemukan kalimat yang tidak jelas, ia memperbaikinya tanpa harus menebak apa yang dirasakan penulisnya.

Baginya, pekerjaan semacam itu lebih mudah dihadapi daripada percakapan manusia. Kata-kata di dalam buku petunjuk tidak akan bertanya mengapa ia tampak sedih. Angka dalam laporan keuangan tidak akan menyalahkannya atas kematian seseorang. Kalimat yang menjelaskan cara menggunakan mesin juga tidak akan berjanji akan menyembuhkan luka yang belum ia pahami sendiri.

Ia mulai menghindari buku cerita fiksi. Novel, cerpen, bahkan kisah pendek yang kebetulan muncul di layar ponselnya segera ia tutup. Ia tidak ingin membaca tentang orang yang saling mencintai, kehilangan, atau berjanji akan selalu bersama. Cerita-cerita seperti itu membuatnya teringat pada Dika dan Leo, pada dua hubungan yang berakhir dengan kematian dan meninggalkan rasa bersalah di dalam dirinya.

Lihat selengkapnya