Bulan demi bulan berlalu.
Maura semakin sulit membedakan hari. Senin dan Minggu terasa sama karena ia mengerjakan hal yang serupa dari pagi sampai malam. Hujan atau panas hanya memengaruhi suhu kamar dan suara yang terdengar dari luar jendela. Pergantian bulan tidak lagi membuatnya memikirkan sesuatu yang ingin ia capai.
Ia tidak benar-benar memperhatikan apakah dirinya lapar. Ketika perut terasa kosong, ia mengambil makanan. Jika tenggorokannya kering, ia minum. Selebihnya, ia kembali bekerja atau berbaring di kasur sambil menatap langit-langit.
Tubuhnya tetap menjalankan kebiasaan yang diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi ia tidak lagi merasa memiliki tujuan yang ingin dikejar. Ia tidak menantikan hari libur, tidak merencanakan perjalanan, dan tidak punya keinginan untuk bertemu siapa pun.
Kadang-kadang, saat duduk sendirian di kamar, ia merasa seperti hanya menjalankan kegiatan yang sama berulang kali tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Ia bisa menyelesaikan beberapa halaman naskah, mengirimkannya kepada klien, lalu mulai mengerjakan tugas berikutnya. Ketika selesai, ia tidak merasa bangga. Ia hanya menutup laptop dan menunggu waktu tidur.
Malam hari menjadi bagian yang paling sulit.
Ketika suara kendaraan di jalan mulai berkurang, pikirannya kembali dipenuhi ingatan yang tidak bisa ia singkirkan. Ia teringat Dika, lalu Leo. Ia mengingat kata-kata yang pernah mereka ucapkan, hal-hal yang tidak sempat ia katakan, dan kejadian yang terus ia putar dalam benaknya untuk mencari jawaban.
Bukan suara Dika yang menangis atau Leo yang berbicara dengan nada penuh penilaian yang paling sering mengganggunya. Yang muncul justru pertanyaan dari pikirannya sendiri.
Sampai kapan?
Pertanyaan itu datang ketika ia berbaring dalam gelap, saat ia sedang menyelesaikan pekerjaan, bahkan ketika ia terbangun beberapa saat sebelum alarm berbunyi. Kadang-kadang, ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka laptop. Pada malam lain, ia menutup telinga dengan bantal dan berharap bisa tertidur sebelum pikirannya kembali berjalan ke tempat yang sama.
Namun, pertanyaan itu tidak hilang.
Sampai kapan ia akan hidup seperti ini? Sampai kapan ia akan terus menghukum dirinya sendiri atas keputusan yang dibuat oleh orang lain? Sampai kapan ia harus menghindari setiap orang yang mencoba mendekat?
Maura tidak pernah menemukan jawaban yang membuatnya merasa lebih baik.
Kamar kosnya terasa semakin sempit ketika pertanyaan-pertanyaan itu datang. Udara lembap membuat napasnya tidak nyaman, dan suara kendaraan dari luar kadang tidak cukup keras untuk menutupi pikirannya sendiri.
Ia pernah berpikir bahwa menjauh dari semua orang akan membuatnya tenang. Kenyataannya, ia hanya memiliki lebih banyak waktu untuk mengingat apa yang ingin ia lupakan.
***
Suatu malam, ketika sedang mencari barang di bagian bawah lemari, Maura menemukan sesuatu yang keras di dalam tas kulit lamanya. Benda itu terbungkus kain halus dan terselip di antara beberapa barang yang sudah lama tidak ia gunakan.
Ia menariknya keluar.