Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #37

Chapter tanpa judul #37

Hari-hari berikutnya tetap berjalan tanpa banyak perubahan. Maura masih mengerjakan naskah dari kamar kos, membeli makanan seperlunya, dan menghindari percakapan panjang dengan orang lain.

Namun, pada malam hari, ia mulai lebih sering keluar untuk berjalan kaki.

Ia menyusuri jalan-jalan Jakarta tanpa tujuan tertentu. Kadang-kadang ia berjalan melewati deretan toko yang sudah tutup, kadang menyusuri trotoar di dekat jalan besar, atau berhenti sebentar di depan warung yang masih melayani pelanggan. Ia tidak benar-benar mencari tempat untuk didatangi. Ia hanya merasa sulit terus berada di kamar ketika pikirannya mulai dipenuhi kenangan.

Kota tetap ramai bahkan ketika malam sudah larut. Kendaraan melintas tanpa henti, lampu toko memantul di kaca bangunan, dan orang-orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan urusan masing-masing.

Di sepanjang jalan, Maura melihat pasangan muda bertengkar di dekat warung. Seorang perempuan berbicara dengan suara tinggi, sementara laki-laki di depannya menunduk sambil sesekali mencoba menjawab. Tidak jauh dari sana, dua orang lain tertawa bersama sambil berbagi makanan dari bungkus kertas.

Ada pula pasangan yang berjalan beriringan, tangan mereka saling menggenggam. Sesekali mereka berhenti di depan etalase, membicarakan sesuatu yang membuat keduanya tersenyum.

Maura melihat mereka tanpa rasa ingin mendekat. Ia tidak lagi memahami bagaimana orang bisa bertengkar lalu kembali berbicara, saling menyakiti kemudian berusaha memperbaiki hubungan. Ia juga tidak mengerti bagaimana seseorang bisa menggenggam tangan orang lain tanpa merasa takut bahwa suatu hari tangan itu akan terlepas untuk selamanya.

Dahulu, ia juga pernah menjalani hari-hari seperti itu. Ia pernah berjalan bersama Dika, berbicara tentang hal-hal sederhana, dan percaya bahwa mereka masih memiliki banyak waktu. Ia juga pernah membayangkan kehidupan yang akan dijalaninya bersama Leo sebelum menyadari bahwa hubungan tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sekarang, kenangan itu terasa jauh, seperti cerita tentang orang lain.

Di stasiun yang dipenuhi penumpang, Maura berjalan mengikuti arus orang yang hendak naik kereta. Di halte bus, ia berdiri di antara pekerja yang memeriksa ponsel dan orang-orang yang sesekali melihat jam. Bahu mereka terkadang bersentuhan ketika seseorang berusaha melewati kerumunan, tetapi tidak ada yang mengenalinya atau bertanya siapa dirinya.

Ia bisa berada di tengah banyak orang tanpa harus menjelaskan apa pun.

Ada saat-saat ketika hal itu membuatnya merasa aman. Namun, ada pula saat ketika ia menyadari betapa mudahnya dirinya menghilang di antara orang-orang yang sibuk. Ia bisa berdiri di sebuah tempat selama beberapa menit, lalu pergi tanpa seorang pun mengingat wajahnya.

Maura merasa semakin jauh dari kehidupan yang dijalani orang lain. Mereka memiliki tujuan, orang yang ditunggu, atau tempat yang ingin mereka datangi. Ia hanya terus berjalan, mengikuti jalan yang terbentang di hadapannya sampai merasa lelah.

Suatu malam, langkahnya membawanya ke sebuah jembatan penyeberangan yang melintas di atas jalan tol utama. Ia menaiki tangga, berjalan melewati beberapa orang, lalu berhenti di bagian tengah.

Di bawahnya, kendaraan bergerak dalam barisan panjang. Lampu depan dan lampu belakang saling menyusul, membentuk aliran cahaya yang terus berubah. Suara mesin dan klakson naik sampai ke tempatnya berdiri.

Maura meletakkan kedua tangan di pagar besi dan menatap jalan raya.

Untuk sesaat, muncul pikiran bahwa ia bisa mengakhiri semuanya dengan melompat. Tidak perlu lagi kembali ke kamar kos. Tidak perlu lagi menghadapi malam-malam panjang, mengingat kematian Dika dan Leo, atau bertanya sampai kapan ia harus hidup dengan perasaan seperti ini.

Pikiran itu datang begitu saja, membuatnya terdiam.

Lihat selengkapnya