Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #38

Chapter tanpa judul #38

Kompleks pemakaman masih lengang ketika Maura tiba. Beberapa petugas sedang membersihkan jalan setapak, sementara embun masih menempel pada rumput dan dedaunan. Ia berjalan melewati deretan makam di kanan dan kiri, mengikuti jalan yang membawanya ke bagian paling jauh dari gerbang.

Dulu, setiap kali datang ke tempat seperti ini, ia selalu merasa seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak sanggup ia terima. Ia akan memikirkan apa yang seharusnya dilakukan, apa yang semestinya dikatakan, dan apa yang mungkin bisa diubah seandainya ia mengambil keputusan berbeda.

Pagi itu, ia hanya berjalan.

Tidak ada lagi rasa takut yang membuatnya ingin segera pergi. Ia juga tidak perlu memaksa dirinya terlihat tabah. Ia datang karena ada sesuatu yang ingin diselesaikannya, sesuatu yang selama ini terus ia bawa meskipun orang yang bersangkutan sudah lama tidak bisa mendengar apa pun darinya.

Makam Dika dan Leo berada di bagian yang sama, hanya terpisah beberapa baris. Semasa hidup, Leo selalu berusaha menjauhkan diri dari segala hal yang mengingatkannya pada Dika. Kini, keduanya justru berakhir di kompleks pemakaman yang sama.

Pikiran itu sempat membuat Maura berhenti sebentar. Ia tidak tahu apakah ada makna di balik kebetulan tersebut. Ia juga tidak lagi merasa perlu mencari jawabannya.

Ia menuju makam Dika lebih dahulu.

Batu nisan yang berdiri di atas gundukan tanah itu tidak lagi kosong seperti ketika Dika pertama kali dimakamkan. Setahun lalu, setelah kematian Leo, Maura menggunakan sebagian tabungannya untuk mengurus izin di kantor pemakaman dan memesan batu granit abu-abu. Nama Dika Danuarta kini terukir rapi di permukaannya.

Ia masih ingat hari ketika batu nisan itu dipasang. Saat itu, ia berdiri cukup lama di samping pekerja yang menyelesaikan pemasangannya. Ia memastikan nama Dika tertulis dengan benar, lalu pulang tanpa merasa lebih baik sedikit pun.

Namun, ia tetap ingin nama itu ada di sana.

Dika bukan hanya laki-laki yang meninggal karena bunuh diri. Ia pernah menjadi seseorang yang tertawa, marah, takut, dan membuat kesalahan. Ia pernah memiliki harapan, meskipun pada akhirnya ia tidak sanggup menghadapi pikirannya sendiri. Maura tidak ingin kematiannya menjadi satu-satunya hal yang diingat orang tentang dirinya.

Selama tujuh tahun, Maura merasa bertanggung jawab menjaga nama dan kenangan Dika. Ia mengira, jika suatu hari ia berhenti merasa bersalah, berarti ia juga sedang melupakan laki-laki itu. Ia bahkan pernah percaya bahwa hidup bahagia setelah kematian Dika akan menjadi semacam pengkhianatan terhadap orang yang telah pergi.

Sekarang, berdiri di depan batu nisan yang sudah diberi nama, ia mulai memahami betapa beratnya tuntutan yang selama ini ia berikan kepada dirinya sendiri.

Ia bisa mengingat Dika tanpa harus terus menghukum dirinya.

Maura membuka tas dan mengeluarkan surat yang sudah lama disimpannya. Kertas itu dilipat berkali-kali. Bagian tepinya rapuh, dan ada beberapa bekas noda yang tidak pernah berhasil dibersihkan. Ia memegangnya dengan hati-hati agar tidak robek.

"Tujuh tahun aku menyimpan surat ini, Dika," katanya pelan.

Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan akan mengatakan banyak hal jika suatu saat bisa berdiri di depan makam Dika dengan pikiran yang lebih jernih. Namun, sekarang, ketika kesempatan itu tiba, ia tidak merasa perlu menyampaikan semuanya.

"Dulu aku menganggap surat ini barang berharga. Aku menyimpannya karena kupikir ini bukti bahwa aku pernah begitu berarti buatmu. Aku percaya kamu memilih mati karena mencintaiku, dan aku harus menanggung akibatnya seumur hidup."

Ia menunduk, memandang tulisan di kertas yang sudah berkali-kali dibacanya.

"Tapi sekarang aku mengerti, Dika. Apa pun yang kamu rasakan waktu menulis surat ini, kamu meninggalkan sesuatu yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawabku. Aku terus menyalahkan diri sendiri, seolah-olah aku yang harus membayar keputusanmu."

Angin pagi bergerak di antara pepohonan. Ujung surat itu bergetar di tangannya. Maura kembali membaca beberapa baris yang masih bisa dikenali. Dulu, kata-kata itu selalu membuat dadanya sesak. Ia membacanya berulang kali, mencari jawaban tentang apa yang seharusnya ia lakukan dan bagaimana caranya menebus sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa ia pahami.

Kini, ia melihat surat itu dengan cara berbeda.

Dika mungkin benar-benar merasa putus asa. Mungkin ia juga percaya bahwa kepergiannya akan membuat Maura memahami betapa besar cintanya. Namun, apa pun yang ada dalam pikirannya saat itu, kematiannya tidak bisa menjadi kewajiban yang harus Maura bayar dengan seluruh sisa hidupnya.

Selama tujuh tahun, surat itu telah menjadi pengingat yang terus menyeretnya kembali ke hari ketika Dika meninggal. Ia membawanya seperti bukti bahwa ia pernah dicintai, tetapi pada saat yang sama, ia menjadikannya alasan untuk tidak mengizinkan dirinya sendiri merasa bahagia.

Maura tidak merobek surat itu. Ia juga tidak ingin membuangnya sembarangan di antara makam-makam lain.

Ia berlutut di atas rumput yang basah, lalu mencari sepotong kayu kecil di dekat batu nisan. Dengan ujung kayu itu, ia menggali lubang di tanah yang gembur, tepat di bawah batu granit. Tanah lembap menempel pada ujung jarinya. Sesekali ia harus berhenti untuk menyingkirkan akar rumput yang menghalangi.

Setelah lubangnya cukup dalam, ia meletakkan surat tersebut di dalamnya. Kertas tua itu tampak kecil di antara tanah yang terbuka. Maura memandangnya sejenak sebelum mulai menimbunnya kembali.

Lihat selengkapnya