Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #39

Chapter tanpa judul #39

Jalan setapak yang tadi dilewatinya masih basah oleh embun. Beberapa petugas pemakaman sedang menyapu daun-daun yang jatuh, sementara suara kendaraan dari jalan raya terdengar semakin jelas ketika ia mendekati pintu keluar. Ia melewati gerbang besi dan melangkah ke trotoar, kembali ke kota yang terus bergerak seperti biasa.

Tidak ada perubahan besar yang terlihat pada dirinya. Ia masih mengenakan mantel hitam yang sama, rambutnya masih tergerai, dan wajahnya tetap menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dihapus hanya dengan tidur cukup. Namun, ia merasa sedikit berbeda setelah meninggalkan pemakaman itu.

Bukan karena seluruh kesedihannya telah selesai, melainkan karena ia tidak lagi membawa dua benda yang selama ini mengikatnya pada masa lalu.

Maura berjalan menyusuri trotoar. Kendaraan melintas dengan suara keras, pengendara sepeda motor saling mendahului, dan beberapa orang berjalan cepat sambil melihat layar ponsel. Di sebuah warung, seorang penjual sedang mengangkat tutup panci. Aroma makanan hangat terbawa angin, bercampur dengan bau asap kendaraan.

Dunia terus menjalankan urusannya. Maura pun akan menjalankan urusannya sendiri.

Dulu, rasa hampa sering membuatnya merasa seperti ada lubang besar di dalam dada. Ia mengira lubang itu harus diisi dengan seseorang, dengan kasih sayang, atau dengan kepastian bahwa hidupnya berarti bagi orang lain. Ketika semua itu hilang, ia tidak tahu bagaimana caranya berdiri tanpa bersandar kepada siapa pun.

Sekarang, ia mulai memahami bahwa ia tidak harus buru-buru mengisi setiap bagian kosong dalam hidupnya. Ada hal-hal yang boleh dibiarkan belum terjawab. Ada hari-hari ketika ia hanya perlu bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi keesokan paginya.

Ia belum tahu akan tinggal di Jakarta berapa lama, apakah suatu hari akan menemukan orang yang bisa dipercaya, atau apakah ia akan kembali merasakan kebahagiaan seperti dulu. Untuk saat ini, ia tidak ingin memaksakan jawaban.

Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, bayangan tubuhnya memanjang di atas aspal. Bayangan itu bergerak mengikuti langkahnya, kadang terpotong oleh cahaya kendaraan yang lewat. Maura tidak lagi mencoba menyamakan langkahnya dengan siapa pun.

Ia berjalan sendiri, dan kali ini ia tidak merasa harus meminta maaf karena itu.

***

Maura baru beberapa langkah meninggalkan gerbang ketika ia menyadari ada sesuatu yang membuatnya berhenti.

Ia tidak tahu apa yang menarik perhatiannya pada awalnya. Mungkin gerakan kecil di antara pepohonan, atau sosok seseorang yang duduk di dekat sebuah makam baru. Ia menoleh ke arah bagian pemakaman yang baru saja ditinggalkannya.

Di bawah pohon kamboja yang sebagian dahannya belum berdaun, seorang laki-laki duduk di depan gundukan tanah berwarna cokelat muda. Rumput belum tumbuh di atasnya. Tanah di sekeliling makam tampak masih baru, dengan beberapa bagian yang mengendap setelah terkena hujan.

Laki-laki itu tidak menangis keras. Ia juga tidak memanggil-manggil nama orang yang telah meninggal. Ia hanya duduk menghadap makam dengan punggung yang tegang dan kepala sedikit menunduk.

Kedua tangannya mencengkeram tanah di tepi gundukan. Jari-jarinya menekan begitu kuat hingga buku-buku jarinya tampak pucat. Lumpur melekat di sela kuku dan telapak tangannya, tetapi ia tidak terlihat peduli. Ia seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang terus menariknya jatuh, meskipun tubuhnya tidak bergerak ke mana-mana.

Di dekat lututnya tergeletak seikat mawar putih. Beberapa kelopaknya sudah lepas dan menempel pada tanah basah. Bunga-bunga itu mungkin baru dibawa pagi tadi, tetapi sekarang dibiarkan begitu saja di samping makam.

Lihat selengkapnya