Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #40

Chapter tanpa judul #40

Langkahnya membawanya kembali ke jalan raya. Suara kendaraan semakin ramai, beberapa pengendara membunyikan klakson, dan seorang pedagang mendorong gerobaknya melewati trotoar. Maura merapatkan mantel ketika angin membawa udara lembap dari arah jalan.

Ia masih belum tahu akan menjadi seperti apa hidupnya beberapa tahun mendatang. Ia juga tidak bisa memastikan bahwa kesedihan lama tidak akan kembali pada hari-hari tertentu.

Namun, ia tidak lagi harus menyelesaikan semuanya pagi itu.

Ia hanya perlu terus berjalan, membuat pilihannya sendiri, dan membiarkan orang lain melakukan hal yang sama.

Di belakangnya, laki-laki itu masih duduk di depan makam. Maura tidak tahu apakah ia akan segera pulang atau tetap berada di sana sampai sore. Ia tidak berusaha menebak.

Ia sudah cukup lama hidup dengan keyakinan bahwa dirinya bertanggung jawab atas kesedihan orang lain. Sekarang, ia mulai belajar bahwa kepedulian tidak harus selalu berarti ikut campur, dan memahami seseorang tidak berarti harus mengambil alih hidupnya.

Maura terus melangkah menyusuri trotoar. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menoleh untuk memastikan apakah seseorang sedang memanggilnya.

Ia berjalan menuju hari yang belum ia kenal, dengan seluruh kekurangan dan kenangan yang masih dibawanya. Bukan sebagai perempuan yang sudah sembuh dari segala luka, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya berhak menentukan sendiri bagaimana ia ingin melanjutkan hidupnya.

Di balik pilar tembok yang mengapit gerbang utama pemakaman, sebuah mobil hitam terparkir dengan mesin menyala pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi kendaraan yang melintas di jalan raya. Dari luar, mobil itu tampak seperti kendaraan biasa yang sedang menunggu seseorang.

Dona duduk di balik kemudi. Di kursi belakang, kedua orang tua Maura terdiam. Mereka sudah cukup lama berada di sana, tetapi tidak satu pun tampak ingin memulai percakapan.

Mata ibu Maura merah dan sedikit bengkak. Sejak tadi, ia menggenggam saputangan putih di pangkuannya. Jari-jarinya sesekali meremas kain itu, lalu mengendur, kemudian menggenggamnya lagi. Berkali-kali ia melirik ke arah gerbang, mengikuti sosok putrinya yang semakin jauh.

Ia ingin keluar dari mobil, menghampiri Maura, memeluknya, lalu membawanya pulang. Keinginan itu begitu kuat sampai beberapa kali tangannya bergerak ke arah pegangan pintu. Namun, setiap kali hendak membuka pintu, ia kembali teringat bahwa Maura datang ke tempat ini atas kemauannya sendiri. Ia tidak ingin membuat putrinya merasa bahwa bahkan saat menghadapi masa lalunya pun, ia masih harus mengikuti kehendak orang lain.

Ayah Maura duduk di sampingnya tanpa banyak bergerak. Pandangannya mengikuti langkah putrinya yang berjalan menjauh dari pemakaman. Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak mudah ia ungkapkan, tetapi di balik itu ada kebanggaan yang juga sulit disembunyikan. Maura telah melalui sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya mereka pahami, dan pagi itu mereka melihatnya melakukan sesuatu yang selama ini mungkin belum sanggup ia lakukan.

Dona melirik ke kursi belakang sebelum kembali melihat jalan melalui kaca depan.

"Jangan disusul sekarang, Bu," katanya pelan. "Biarkan Maura sendiri dulu."

Ibu Maura menunduk. Ia mengusap sudut matanya dengan saputangan, tetapi tidak menjawab.

"Dia sedang belajar menjalani hidupnya sendiri lagi," lanjut Dona. "Kita bisa menunggu di sini. Kalau dia butuh kita, dia tahu kita ada."

Dona tidak mengatakan bahwa Maura pasti akan baik-baik saja. Ia tahu tidak ada seorang pun yang bisa menjamin hal itu. Ia hanya ingin memberi kesempatan kepada sahabatnya untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulainya pagi itu tanpa merasa sedang diawasi.

Mereka bertiga sebenarnya sudah tiba sejak langit mulai terang. Mereka tidak datang untuk mengatur ke mana Maura harus pergi atau memastikan setiap tindakannya sesuai dengan keinginan mereka. Mereka juga tidak ingin mengulang cara Leo memperlakukan Maura, ketika perhatian berubah menjadi pengawasan dan kepedulian digunakan untuk membatasi kebebasan seseorang.

Mereka hanya ingin berada cukup dekat jika sewaktu-waktu Maura membutuhkan bantuan.

Dari tempat parkir itu, mereka melihat Maura berlutut di depan makam Dika. Mereka melihatnya mengubur surat yang telah disimpannya selama tujuh tahun. Mereka juga menyaksikan saat Maura meletakkan cincin Leo di atas batu marmer putih, lalu berdiri beberapa saat sebelum meninggalkan kedua makam tersebut.

Lihat selengkapnya