Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #41

Chapter tanpa judul #41

Di luar jendela, gerimis mulai turun. Titik-titik air menempel pada kaca, sementara udara lembap masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Maura tidak segera menutupnya. Beberapa tetes air terbawa angin dan menyentuh pipinya.

Ia mengusap pipi dengan punggung tangan, lalu membiarkan jendela tetap terbuka.

Dulu, hujan sering mengingatkannya pada hari-hari yang ingin ia lupakan. Bau tanah basah, suara air di jalan, dan langit gelap bisa membawanya kembali ke kejadian yang menyakitkan. Ia berusaha menghindari hal-hal tersebut karena takut kenangan itu akan kembali menguasai pikirannya.

Pagi itu, ia hanya merasakan air yang dingin di kulitnya.

Hujan tetaplah hujan. Ia tidak perlu menganggapnya sebagai pertanda buruk atau pesan tentang apa yang akan terjadi pada hidupnya. Air yang jatuh di jalan tidak tahu siapa yang sedang berduka, siapa yang sedang bahagia, atau siapa yang sedang mencoba memulai lagi.

Maura menarik napas panjang. Udara Jakarta masih bercampur asap kendaraan dan bau jalanan yang basah. Tidak ada sesuatu yang istimewa di dalamnya, tetapi ia tidak keberatan. Ia tidak sedang menunggu keajaiban. Ia hanya ingin menjalani hari itu sebagaimana adanya.

Masa lalunya mungkin akan terus muncul dalam ingatan. Ada hari ketika ia bisa mengingat Dika dan Leo tanpa banyak kesulitan, ada pula hari ketika sebuah suara atau kejadian sederhana membuatnya kembali merasa sedih. Namun, ingatan itu tidak lagi harus menentukan apa yang akan ia lakukan setelahnya.

Ia tidak harus membenci hujan hanya karena hujan pernah hadir pada hari-hari buruk. Ia tidak harus menghindari semua orang hanya karena pernah disakiti oleh dua laki-laki. Ia juga tidak harus menganggap setiap perasaan sedih sebagai tanda bahwa dirinya kembali ke keadaan semula.

Maura masih bisa terluka, dan ia masih bisa belajar menghadapinya.

Bus melaju melewati persimpangan yang padat. Di depan, lampu lalu lintas berganti warna. Beberapa pengendara berhenti, sementara pejalan kaki menunggu kesempatan untuk menyeberang.

Maura menyimpan ponselnya dan kembali melihat keluar jendela. Ia belum tahu ke mana semua pilihannya akan membawanya. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak membuatnya ingin segera mencari seseorang yang bisa menentukan arah bagi dirinya.

Bus terus berjalan, membawanya menuju tempat yang belum ia ketahui sepenuhnya. Ia tidak lagi hidup mengikuti angka di layar alat pemantau, penilaian orang lain, atau keinginan seseorang yang mengaku tahu apa yang terbaik baginya.

Ia hanya sedang menjalani perjalanan sendiri.

***

Tiga tahun kemudian

Waktu tidak menghapus luka Maura. Ia hanya memberinya kesempatan untuk mengenali rasa sakit itu tanpa selalu dikuasai olehnya.

Tiga tahun setelah hari ketika ia mengubur surat Dika dan meninggalkan cincin Leo di atas makam, hidup Maura telah mengalami banyak perubahan. Tidak semuanya berlangsung mulus. Ada rencana yang berhasil, ada yang harus ditunda, dan ada hari-hari ketika ia kembali meragukan keputusan sendiri. Namun, ia tidak lagi menganggap kesulitan sebagai bukti bahwa hidupnya gagal.

Ia mulai berhenti sekadar bertahan. Ia kembali membuat rencana, mencoba hal-hal yang dahulu tidak berani dilakukannya, dan memberi dirinya kesempatan untuk menikmati sesuatu tanpa merasa bersalah.

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela apartemennya di Jakarta Selatan. Cahaya keemasan jatuh di lantai dan menyentuh beberapa pot tanaman di dekat jendela. Daun monstera di sudut ruangan tumbuh lebar, dengan beberapa helai baru yang masih muda.

Maura berdiri di dekat jendela sambil memegang secangkir kopi hitam. Apartemennya tidak besar atau mewah. Tidak ada perabot mahal yang dipilih hanya untuk mengesankan tamu. Namun, setiap benda di dalamnya berada di sana karena ia menyukainya atau memang membutuhkannya.

Di dekat dinding terdapat rak kayu berisi buku-buku seni, kumpulan esai, dan bacaan tentang kesehatan jiwa. Beberapa buku ditumpuk mendatar karena ruang di rak sudah tidak cukup. Di atas meja kerja dari kayu jati tua, naskah-naskah berserakan di antara catatan kecil dan pulpen. Permukaan meja itu memiliki sejumlah goresan yang tidak pernah ia tutupi.

Lihat selengkapnya