Selama dua jam berikutnya, ruangan dipenuhi suara ujung pulpen yang bergesekan dengan kertas. Sesekali seseorang berhenti untuk berpikir. Ada yang mencoret satu kalimat, lalu menulisnya kembali. Ada pula yang meletakkan pulpen dan memandang keluar jendela sebelum melanjutkan.
Di salah satu sudut, terdengar tangis pelan. Perempuan muda yang tadi menggenggam pulpennya dengan gugup sedang menunduk, mengusap pipi dengan lengan baju. Maura tidak langsung menghampirinya. Ia memberi waktu, lalu bertanya dari tempat duduknya apakah perempuan itu ingin beristirahat sebentar.
Perempuan itu menggeleng dan kembali menulis.
Maura membiarkannya.
Di ruangan itu, ia tidak berdiri sebagai seseorang yang sudah menyelesaikan seluruh masalah hidupnya. Ia juga tidak meminta orang lain mengikuti jalan yang pernah ditempuhnya. Ia hanya berbagi hal-hal yang pernah membantunya, mendengarkan jika peserta ingin bercerita, dan mengingatkan mereka bahwa tidak ada kewajiban untuk membuka semua pengalaman sekaligus.
Ia tidak menyuruh siapa pun untuk segera kuat. Ia tahu betapa menyakitkannya mendengar kalimat seperti itu ketika seseorang bahkan belum sanggup melewati satu hari dengan tenang.
Kadang-kadang, yang dibutuhkan seseorang hanyalah waktu untuk menulis satu kalimat, menarik napas, atau mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan. Maura tidak menganggap hal-hal kecil itu sebagai kegagalan. Ia justru belajar menghargai proses yang tidak selalu terlihat dari luar.
Ketika sesi berakhir, para peserta mulai membereskan kertas dan pulpen. Beberapa orang mengobrol sebentar sebelum pulang. Perempuan muda yang tadi menangis melipat tulisannya dan menyimpannya ke dalam tas. Sebelum pergi, ia menghampiri Maura dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.
Maura membalas dengan senyuman, lalu mengingatkannya bahwa ia tidak harus menyelesaikan semuanya hari itu.
Setelah sebagian besar peserta meninggalkan ruangan, seorang laki-laki muda berjalan mendekati meja Maura. Wajahnya tampak lelah. Lingkaran gelap terlihat di bawah matanya, dan ia beberapa kali menggosok telapak tangan sebelum akhirnya berbicara.
"Mbak Maura, boleh tanya sesuatu?"
"Tentu."
Laki-laki itu menunduk sebentar, seperti sedang mencari kata yang tepat.
"Bagaimana caranya Mbak bisa menulis tentang hal-hal yang paling menyakitkan tanpa merasa semuanya datang lagi? Saya sudah mencoba beberapa kali, tapi setiap kali mengingat kejadian lama, rasanya seperti kembali ke tempat yang sama. Saya jadi sulit tidur dan tidak bisa mengerjakan apa-apa."
Maura mendengarkan tanpa memotong. Ia tidak buru-buru menjawab karena ia tahu pertanyaan itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu nasihat.
"Aku juga pernah mengalami masa ketika menulis tentang sesuatu justru membuatku merasa lebih buruk," katanya akhirnya. "Dulu aku mengira aku harus memaksa diri untuk terus menulis sampai tidak merasa sakit lagi. Aku pikir kalau masih sedih, berarti aku belum berhasil."
Laki-laki itu mengangkat wajahnya.
"Tapi ternyata aku tidak harus melakukan semuanya sekaligus. Ada bagian yang bisa kutulis sekarang, ada bagian yang perlu kutinggalkan dulu. Kalau menulis membuatku terlalu kewalahan, aku boleh berhenti. Aku boleh kembali ketika sudah lebih siap."
Maura mengambil gelas air di atas meja dan menyesap sedikit sebelum melanjutkan.
"Aku juga mulai belajar bahwa mengingat sesuatu tidak berarti aku harus kembali hidup di dalam kejadian itu. Aku bisa mengingatnya sebagai bagian dari masa lalu, meskipun kadang-kadang perasaanku masih ikut muncul. Kalau rasa sakitnya terlalu berat atau mulai mengganggu tidur dan kegiatan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga bisa menjadi pilihan."