Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #43

Chapter tanpa judul #43

Selama bertahun-tahun, ia mencari rasa aman pada orang lain. Ia mengira bahwa jika seseorang cukup mencintainya, ia tidak akan lagi merasa takut atau kesepian. Dika pernah menjadi tempatnya berbagi harapan, tetapi hubungan mereka perlahan berubah menjadi ikatan yang dipenuhi ketergantungan dan rasa bersalah. Setelah Dika meninggal, Maura terus membawa kehilangan itu seolah-olah ia harus menjaga kesedihan tersebut agar cinta mereka tetap berarti.

Kemudian datang Leo, dengan segala kepastian dan aturan yang ditawarkannya. Dari luar, hidup yang dijanjikan Leo tampak teratur dan nyaman. Ia seolah tahu apa yang perlu dilakukan agar Maura pulih. Namun, semakin lama, Maura semakin sulit membedakan bantuan dari kendali. Rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru membuatnya takut melakukan kesalahan.

Ia pernah mengira bahwa rumah adalah seseorang yang bisa menghilangkan semua rasa takutnya. Sekarang, ia mulai memahami bahwa rasa aman juga berkaitan dengan kemampuannya mengatakan tidak, mengakui apa yang ia rasakan, dan meninggalkan keadaan yang tidak baik baginya.

Menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri bukan berarti ia tidak akan pernah membutuhkan orang lain. Ia masih membutuhkan teman, keluarga, dan orang-orang yang bisa dipercaya. Ia juga tidak ingin menjalani seluruh hidup dengan menutup pintu bagi siapa pun yang ingin mendekat.

Yang ingin ia jaga adalah hak untuk menentukan bagaimana hubungan itu dijalani. Ia ingin bisa menyayangi seseorang tanpa menyerahkan seluruh keputusan hidupnya, mendengarkan masalah orang lain tanpa merasa harus menyelesaikannya, dan meminta bantuan tanpa menganggap dirinya lemah.

Gerimis semakin rapat. Maura menutup buku catatan dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia berdiri, membersihkan bagian belakang celananya yang terkena air dari bangku, lalu berjalan menuju tempat parkir.

Sebelum sampai ke mobil, ia berhenti sebentar di bawah pohon yang daunnya lebat. Ia melihat air menetes dari ujung daun, jatuh ke tanah, lalu menghilang di antara rumput.

Tidak ada pesan khusus yang harus ia ambil dari pemandangan itu. Tidak ada pertanda bahwa seluruh kesedihannya telah berakhir. Ia hanya melihat hujan turun, merasakan udara yang sejuk, dan menyadari bahwa dirinya masih ada di sana.

Ia masih hidup. Ia masih bisa memilih. Dan ia tidak harus tahu seluruh jawaban tentang masa depannya sebelum mulai menjalaninya.

Maura melanjutkan langkah menuju mobil.

Di dalam tasnya, buku catatan itu tersimpan bersama kunci, dompet, dan ponsel. Di dalamnya, ada daftar keinginan lama dan satu kalimat baru yang belum selesai ia pahami sepenuhnya.

Menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri.

Ia tahu kalimat itu bukan sesuatu yang bisa dicentang sebagai selesai. Ia harus terus mempraktikkannya, mungkin berkali-kali dalam keputusan kecil yang tidak diketahui orang lain.

Namun, kali ini, ia tidak keberatan jika prosesnya membutuhkan waktu.

Ia menyalakan mobil dan mengarahkan kendaraan ke jalan raya. Gerimis membasahi kaca depan, lalu wiper bergerak menyapu air dengan gerakan teratur. Lampu-lampu kendaraan menyala di antara lalu lintas sore yang padat.

Maura mengemudi pulang, menuju apartemennya yang sederhana, membawa pulang dirinya sendiri bersama semua hal yang masih perlu ia pelajari.

Lihat selengkapnya