Hujan Di Tengah Badai

Shanty Dewi Shanty
Chapter #44

Chapter tanpa judul #44

Pesta berlangsung lancar. Maura menyaksikan Dona menerima ucapan selamat dari para tamu, melihat mata ibunya berkaca-kaca, dan menangkap senyum bangga ayahnya. Pemandangan itu membuatnya ikut bahagia. Ia tak merasa perlu membandingkan kebahagiaan orang lain dengan apa yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Namun, semakin malam, ruangan semakin padat. Suara musik bercampur dengan percakapan dari berbagai arah. Setelah beberapa lama, kepala Maura mulai terasa pening. Ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan waktu sebentar untuk menjauh dari keramaian, bukan karena ada sesuatu yang salah, melainkan karena ia ingin mendengarkan pikirannya sendiri.

Ia keluar dari ruangan utama tanpa berpamitan kepada siapa pun, lalu berjalan menuju kedai kopi yang berada tepat di sebelah gedung pernikahan, masih dalam satu kompleks bangunan.

Kedai itu jauh lebih sepi. Lampu-lampunya berwarna kuning hangat, dan aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi ruangan. Beberapa orang duduk sendiri di dekat jendela, sementara sepasang pengunjung berbicara pelan di sudut.

Maura memesan secangkir kopi susu panas. Ia menyukai minuman itu, dan sekarang ia bisa menikmatinya tanpa harus menjelaskan pilihannya kepada siapa pun.

Ia memilih tempat duduk di meja kayu panjang dekat jendela besar yang menghadap taman kecil. Beberapa kursi di sana masih kosong. Meja itu memang digunakan bersama oleh para pengunjung, baik yang datang sendirian maupun berkelompok. Tak ada tempat khusus untuk pasangan atau tamu dengan pesanan tertentu. Siapa pun boleh duduk selama ada kursi yang tersedia.

Maura mengangkat cangkirnya dan menyesap kopi perlahan. Di luar, lampu taman menyala kekuningan, menerangi jalan setapak dan beberapa tanaman di tepinya.

Pandangannya berhenti pada bayangan wajahnya di kaca. Ia teringat perempuan yang dulu menjalani hari-hari dengan perasaan seolah setiap langkahnya bisa membawa akibat buruk bagi orang lain. Perempuan yang bertahun-tahun berusaha memahami, menyelamatkan, dan menanggung sesuatu yang sebenarnya tak sanggup ia kendalikan.

Perjalanan untuk sampai ke tempatnya sekarang tidak mudah. Ada kehilangan yang tak bisa diperbaiki, keputusan yang baru berani diambil setelah terlambat, dan hari-hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa berat. Namun, ia telah sampai di sini.

Maura tersenyum kecil pada bayangannya sendiri, lalu kembali menikmati kopinya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah mendekati meja. Kursi kosong di sebelah kanannya ditarik perlahan, disusul suara seseorang yang duduk. Maura menoleh sebentar, sekadar memastikan bahwa orang itu tak terlalu dekat dengannya.

Ia mengenali laki-laki yang duduk di sana.

Pria yang beberapa menit sebelumnya bersenggolan dengannya di gedung pernikahan.

Laki-laki itu pun tampak terkejut ketika menyadari siapa yang duduk di sebelahnya. Ia sempat memandang Maura beberapa saat sebelum meletakkan cangkir kopi susunya di atas meja.

“Wah, ternyata dunia ini sempit sekali, ya,” katanya dengan senyum tipis. “Kita bertemu lagi di sini. Maaf soal kejadian tadi. Di dalam memang ramai sekali.”

Maura membalas senyumnya.

“Tidak perlu minta maaf lagi, Pak. Saya juga sudah lupa soal itu. Anda teman pengantin juga?”

Pria itu menyesap kopinya sebelum menjawab. Saat menyebut pengantin laki-laki, wajahnya tampak lebih terbuka.

“Saya teman dekat pengantin pria. Kami sudah kenal sejak kuliah. Banyak hal kami lewati bersama, dari masa susah sampai sekarang. Rasanya dia sudah seperti saudara sendiri. Saya senang akhirnya dia menemukan perempuan seperti Dona. Teman Anda itu baik sekali. Anda beruntung punya sahabat seperti dia.”

Maura terdiam sesaat. Rupanya, dugaan mereka datang dari lingkaran yang sama memang benar. Ia hadir sebagai sahabat Dona, yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Pria itu datang sebagai sahabat pengantin laki-laki dengan kedekatan serupa.

Lihat selengkapnya