Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #2

Bayang-Bayang Lampung


Lampung selalu berbau garam pada pagi hari.

Bagi sebagian orang, bau itu mungkin hanya bagian dari udara yang dibawa angin laut ke daratan. Sesuatu yang biasa, sesuatu yang tidak perlu dipikirkan. Berbeda halnya untuk seorang Bramanta, baginya aroma itu adalah penanda waktu. Bahkan sebelum membuka mata, ia sudah tahu pagi telah tiba dari bau asin yang merembes masuk melalui celah-celah dinding papan rumah mereka.

Suara ombak terdengar samar dari kejauhan. Tidak besar. Tidak mengaum. Hanya seperti seseorang yang terus-menerus berbisik dalam bahasa yang tidak pernah benar-benar dipahami manusia.

Bram membuka mata.

Cahaya matahari belum sepenuhnya masuk ke kamar sempitnya. Garis-garis tipis berwarna keemasan menyelinap melalui sela jendela kayu dan jatuh di lantai yang mulai memudar warnanya dimakan usia.

Ia bangkit perlahan.

Di sudut ruangan, beberapa buku bertumpuk tidak beraturan. Sebagian sudah lepas sampulnya. Sebagian lagi menguning di bagian tepi. Buku-buku yang datang dari berbagai tempat dan cara. Ada yang ia pinjam dari guru sekolah, ada yang ia dapat dari pedagang barang bekas di pasar, ada pula yang ditemukan begitu saja di gudang sekolah.

Untuk Bram, buku-buku itu lebih berharga daripada apa pun. Ia mengambil satu di antaranya sebelum benar-benar meninggalkan kamar. Kebiasaan. Ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang jika keluar rumah tanpa membawa buku.

Di dapur, ibunya sedang menjerang air. Asap tipis mengepul dari ceret aluminium yang sudah penyok di beberapa bagian.

"Ayahmu sudah berangkat subuh tadi," kata ibunya tanpa menoleh.

Bram mengangguk. Ia tidak perlu bertanya. Ayahnya memang hampir selalu berangkat sebelum matahari muncul. Laut adalah jam kerjanya. Gelombang adalah atasannya, dan cuaca adalah satu-satunya hal yang bisa memberinya libur.

Ibunya akhirnya menoleh dan tersenyum. Senyum sederhana yang selalu membuat Bram merasa dunia tidak terlalu buruk.

"Mau sarapan dulu?"

"Nanti saja, Bu."

"Kau mau baca lagi?"

Bram hanya tersenyum kecil. Ibunya tertawa pelan. Seolah sudah tahu jawaban itu bahkan sebelum bertanya.

"Kadang Ibu heran."

"Apa?"

"Kau bisa berjam-jam baca buku yang sama."

Bram menatap buku di tangannya. "Lagi seru."

Lihat selengkapnya