Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #3

Laut yang Terlalu Sempit

Beberapa bulan setelah malam itu, tidak banyak yang berubah di kampung mereka. Matahari masih terbit dari arah yang sama. Perahu-perahu masih berangkat sebelum fajar. Para nelayan masih mengandalkan cuaca untuk menentukan apakah dapur mereka bisa mengepul. Ayah Bram masih pulang dengan bau laut yang menempel di kulitnya. Tak ada yang tahu bahwa ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam diri Bram. Sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Guru Bahasa Indonesianya, Pak Ridwan, adalah orang pertama yang menyadarinya. Suatu siang setelah jam pelajaran selesai, lelaki paruh baya itu memanggil Bram ke meja guru.

"Kau masih nulis?"

Bram mengangguk.

Pak Ridwan tersenyum. "Duduk."

Bram duduk perlahan. Di atas meja, ada beberapa lembar kertas yang dikenalnya. Tulisan tangannya sendiri. Karangan yang dikumpulkan minggu lalu.

"Aku baca ini dua kali."

Bram tidak tahu harus menjawab apa.

"Kau suka membaca, ya?"

"Iya, Pak."

"Kelihatan."

Pak Ridwan mengangkat lembaran itu. "Lanjutkan."

Hanya sepatah kata. Namun bagi Bram yang jarang mendapat pengakuan dari siapa pun, sepatah kata itu terasa besar. Sangat besar.

Untuk pertama kalinya ada orang dewasa yang tidak bertanya: "Buku bisa bikin kenyang?", atau: "Memangnya mau jadi apa?"

Tidak. Pak Ridwan hanya berkata: "Lanjutkan."

Dengan kebanggaan yang membuat langkahnya lebih jumawa, Bram membawa pulang sepatah kata itu sepanjang jalan.

Lihat selengkapnya