Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #5

Perempuan yang Selalu Menunggu

Ibu Bram tidak pernah bertanya kenapa anaknya berbeda. Ia hanya menerima kenyataan itu seperti menerima hujan yang datang lebih cepat dari perkiraan. Tanpa banyak protes. Tanpa banyak pertanyaan.

Di kampung mereka, anak laki-laki seusia Bram biasanya menghabiskan sore dengan membantu ayah mereka. Memperbaiki jala, membersihkan perahu, atau sekadar duduk bersama para lelaki dewasa sambil mendengarkan cerita tentang laut.

Bram juga membantu. Sesekali. Hanya saja ia lebih sering ditemukan duduk di bawah pohon ketapang dekat pantai. Membaca. Menulis. Menatap laut terlalu lama.

Orang-orang sering menganggap itu aneh. Ibunya tidak. Bagi ibunya, setiap anak memang lahir membawa arah anginnya sendiri. Menurutnya tugas orang tua bukan mengubah arah angin itu, melainkan memastikan anaknya tidak kehilangan jalan saat badai datang.

Suatu sore, ketika matahari mulai turun dan langit berubah keemasan, Bram menemukan ibunya sedang duduk di belakang rumah. Perempuan itu sedang mengambil ikan asin yang dijemur. Tangannya bergerak cepat. Terbiasa.

Bram duduk di sebelahnya. Mereka tidak langsung bicara. Hubungan mereka tidak pernah membutuhkan terlalu banyak kata. Kadang mereka bisa duduk berdampingan selama beberapa menit tanpa merasa canggung.

Angin laut bertiup pelan.

"Bram."

"Iya, Bu?"

"Kau lagi banyak pikiran."

Bram tersenyum kecil. "Kelihatan?"

Ibunya terkekeh. "Dari kecil juga kelihatan."

Bram menunduk.

Perempuan itu kembali menyusun ikan asin di atas anyaman bambu. "Kau kepingin pergi, ya?"

Jantung Bram seperti berhenti sesaat. Ia menoleh cepat. "Maksud Ibu?"

Ibunya tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya tersenyum. Senyum yang membuat Bram sadar bahwa selama ini mungkin ia tidak pernah benar-benar berhasil menyembunyikan apa pun dari perempuan di sampingnya.

Lihat selengkapnya