Musim hujan datang lebih cepat tahun itu. Laut menjadi lebih gelisah. Ombak lebih tinggi. Angin lebih dingin. Para nelayan lebih sering duduk di darat sambil menunggu cuaca membaik. Ayah Bram termasuk salah satunya. Sudah hampir seminggu ia tidak melaut. Artinya tidak ada ikan. Tidak ada penghasilan. Tidak ada kepastian.
Suasana rumah berubah. Bukan karena pertengkaran. Justru karena terlalu banyak diam. Diam yang panjang. Diam yang membuat setiap bunyi terdengar lebih keras dari biasanya. Sendok yang jatuh. Pintu yang ditutup. Langkah kaki di lantai kayu. Semua terdengar seperti gangguan.
Suatu sore, Bram pulang sekolah dan mendapati ayahnya sedang duduk di teras. Menatap hujan. Tanpa rokok. Tanpa kopi. Hanya duduk. Bram tahu itu pertanda buruk. Ayahnya tidak pernah suka diam terlalu lama.
"Kemari."
Suara itu membuat langkah Bram melambat. Ia duduk di bangku panjang yang sama. Mereka memandangi hujan. Lama. Sangat lama.
Lalu ayah berkata: "Tahun depan kau selesai sekolah."
Bram mengangguk.
"Habis itu bantu ayah."
Bukan pertanyaan. Pernyataan. Bram merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
"Aku mau coba kirim tulisan lagi."
Ayah menghela nafas. Lagi. Nafas yang sudah terlalu sering ia dengar.
"Terus?"
"Mungkin bisa kerja lain sambil nulis."
"Kerja apa?"
Bram tidak punya jawaban, dan ayah tahu itu.
"Itu masalahmu."
Sunyi. Hujan semakin deras.