Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #7

Kaleng Biskuit di Bawah Buku

Kaleng bekas biskuit itu awalnya milik ibunya. Dulu digunakan untuk menyimpan benang jahit, kancing cadangan, dan berbagai benda kecil yang suatu hari mungkin berguna. Seperti kebanyakan barang di rumah mereka, kaleng itu sudah tua. Cat biru pada tutupnya mulai mengelupas. Sudut-sudutnya penyok. Dan ketika dibuka, selalu mengeluarkan bunyi berderit pelan.

Kini kaleng itu berada di bawah tempat tidur Bram. Tersembunyi di balik tumpukan buku. Setiap malam sebelum tidur, ia akan memeriksanya. Bukan karena takut hilang. Melainkan karena ia ingin memastikan mimpinya masih ada di sana.

Tiga keping uang logam. Kemudian lima. Lalu tujuh. Jumlahnya begitu sedikit hingga nyaris lucu. Namun Bram tetap menghitungnya. Berulang kali. Karena baginya, itu bukan uang, itu adalah kemungkinan. Sebuah kemungkinan, sekecil apa pun, jauh lebih berharga daripada kepastian yang tidak diinginkan.

***

Hari-harinya mulai memiliki pola baru. Sekolah. Membantu di rumah. Lalu mencari pekerjaan kecil apa pun yang bisa memberinya beberapa keping uang tambahan. Kadang membantu nelayan memperbaiki jala. Kadang mengangkat karung di dermaga. Kadang mengantar barang ke pasar.

Tidak banyak, tapi cukup. Setidaknya untuk membuat isi kaleng bertambah sedikit demi sedikit.

Suatu sore ketika matahari mulai turun, Bram sedang membantu seorang pedagang menurunkan peti-peti kayu dari sebuah truk tua. Lelaki itu bukan orang kampung. Logatnya berbeda. Pakaiannya juga.

"Capek?" tanya lelaki itu sambil tertawa.

Bram menggeleng. "Biasa."

"Biasa katanya." Lelaki itu menyeka keringat dari dahinya. "Aku seusiamu malah masih sibuk main layangan."

Lihat selengkapnya