Setelah malam itu, tidak ada yang berubah. Setidaknya dari luar. Ayah masih pergi melaut ketika cuaca memungkinkan. Ibu masih menjemur ikan di belakang rumah. Bram masih pergi ke sekolah. Masih membaca. Masih menulis. Masih membantu pekerjaan kecil di sekitar kampung. Semuanya tampak sama.
Namun di bawah permukaan, sesuatu telah bergeser. Seperti arus laut yang tidak terlihat dari pantai. Bram tidak pernah lagi menghitung uang di dalam kaleng saat masih ada orang yang terjaga. Ia menunggu rumah benar-benar sunyi. Menunggu lampu dapur dipadamkan. Menunggu suara langkah ibunya menghilang. Menunggu ayah berhenti batuk di kamar sebelah. Barulah ia mengeluarkan kaleng itu. Membukanya. Menghitung isinya. Lalu menyimpannya kembali.
Setiap malam. Seolah ritual rahasia. Seolah masa depannya bisa tumbuh hanya karena terus dihitung. Namun semakin banyak uang yang terkumpul, semakin sedikit ketenangan yang ia miliki. Karena sekarang pelarian itu mulai terasa nyata, dan sesuatu yang nyata selalu lebih menakutkan daripada mimpi.
Suatu sore, Bram pulang lebih awal. Ia menemukan ibunya sedang melipat pakaian di ruang tengah. Cahaya matahari masuk melalui jendela kayu. Debu-debu kecil melayang di udara. Pemandangan yang sangat biasa. Begitu biasa hingga Bram mendadak takut melupakannya suatu hari nanti.
"Kenapa berdiri di situ?" tanya ibunya.
Bram tersadar. "Nggak kenapa-kenapa."
"Kalau nggak kenapa-kenapa, sini bantu lipat."
Bram tertawa kecil. Lalu duduk di sampingnya. Mereka mulai melipat pakaian bersama.
Lalu ibunya berkata pelan. "Dulu waktu kecil..."
Bram menoleh.
"Kau nggak bisa tidur kalau nggak pegang ujung kerudung Ibu."
Bram mengerang. "Bu..."
Ibunya tertawa. "Sungguh."
"Itu waktu masih kecil."
"Iya."