Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #9

Gelombang Laut Tidak Bisa Ditahan

Kaleng biskuit itu akhirnya ditemukan pada suatu sore yang tidak istimewa. Tidak ada badai. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pertanda apa pun. Hanya seekor tikus. Seekor tikus kecil yang berlari ke bawah tempat tidur Bram.

Ibunya sedang membersihkan kamar ketika melihatnya. Perempuan itu menggeser beberapa buku. Mengangkat tikar. Lalu menemukan kaleng tua yang selama berbulan-bulan disembunyikan di sana. Ia mengenali kaleng itu seketika. Dulu miliknya. Kini terasa asing.

Perempuan itu membukanya. Di dalamnya ada uang. Tidak banyak, tapi terlalu banyak untuk ukuran seorang anak usia empat belas tahun. Tapi yang membuatnya lebih sedih bukan jumlah uang itu, melainkan kenyataan bahwa ia sudah tahu untuk apa uang itu disimpan. Sejak lama.

Ia menutup kembali kaleng tersebut. Menyimpannya persis seperti semula, lalu melanjutkan pekerjaannya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Malamnya, ketika Bram pulang, ia menemukan ibunya duduk sendirian di teras. Tidak menjahit. Tidak mengupas bawang. Tidak melakukan apa pun. Hanya duduk. Menunggu.

Bram langsung tahu. Ada hal yang sedang mengganggu pikiran ibu, satu hal yang membuatnya sedih, ia merasa bahwa hal itu terkait dengan dirinya. Konon katanya seorang anak selalu bisa mengenali kesedihan ibunya, bahkan sebelum kesedihan itu diucapkan. Saat dia masuk ke kamar dan menemukan kaleng tabungannya bergeser dari tempat semula, dia pun paham sudah.

"Ibu marah?"

Perempuan itu tersenyum kecil. "Tidak."

Jawaban yang justru membuat Bram semakin tidak nyaman. Karena marah lebih mudah dihadapi.

"Kau sudah lama nabung?"

Bram menunduk. "Iya."

"Untuk pergi?"

Lama sekali sebelum akhirnya ia menjawab. "Iya."

Angin malam bertiup pelan. Suara ombak terdengar dari kejauhan. Di ambang awal yang tak pernah tersentuh sebelumnya, Bram mengucapkan mimpinya keras-keras kepada seseorang.

"Aku mau ke Jakarta."

Kalimat itu terasa lebih besar setelah diucapkan. Lebih nyata. Lebih menakutkan.

Ibunya mengangguk perlahan. Seolah sedang mendengar sesuatu yang sudah ia ketahui bertahun-tahun.

"Kapan?"

Lihat selengkapnya