Setelah malam itu, rumah mereka menjadi lebih sunyi. Bukan sunyi yang marah. Bukan sunyi yang penuh kebencian. Sunyi yang lelah.
Ayah tidak lagi bertanya soal tulisan. Tidak lagi bertanya soal masa depan. Tidak lagi bertanya apa pun. Ternyata kesunyian seperti itu justru jauh lebih menyakitkan. Karena selama ini Bram selalu mengira yang memisahkan mereka adalah perdebatan. Ternyata bukan. Sebab yang memisahkan mereka adalah ketika mereka berhenti mencoba saling memahami.
Hari-hari berlalu. Ayah tetap bekerja. Bram tetap membantu. Mereka masih makan di meja yang sama. Masih tinggal di rumah yang sama. Masih mendengar ombak yang sama. Namun kini ada sesuatu yang tidak terlihat duduk di antara mereka. Perpisahan. Belum terjadi. Tapi sudah hadir.
***
Malam berikutnya, ibunya mengetuk pintu kamar. Pelan.
"Boleh masuk?"
Bram mengangguk.
Perempuan itu membawa secangkir teh. Seperti ketika ia masih kecil. Seperti ketika semua masalah di dunia masih bisa diselesaikan dengan pelukan.
Ibunya duduk di tepi ranjang. Tidak langsung bicara. Hanya memandang buku-buku yang berserakan. Catatan-catatan. Kertas-kertas penuh coretan. Dunia yang selama ini berusaha dipahami namun tak pernah benar-benar bisa ia masuki.
"Ayahmu sedih."
Bram menunduk.
"Aku tahu."
"Ibu juga."