Hal pertama yang disadari Bram tentang dunia di luar Lampung adalah: dunia tidak peduli padanya. Bukan laut. Bukan kapal. Bukan kota. Dunia. Ia menyadarinya pada pagi hari ketika kapal akhirnya merapat.
Sudah berjam-jam sejak matahari terbit. Tubuhnya pegal. Kepalanya pening. Perutnya kosong. Sementara pelabuhan tetap bergerak seperti tidak ada yang istimewa. Orang-orang berteriak. Karung-karung dipindahkan. Truk keluar masuk. Asap mengepul dari berbagai arah. Tak seorang pun memperhatikan seorang anak empat belas tahun yang turun membawa tas kain lusuh dan dua buah buku. Tak seorang pun.
Di Lampung, semua orang mengenal namanya. Di sini, ia bahkan tidak cukup penting untuk dilihat. Perasaan itu aneh. Menakutkan, tapi juga membebaskan. Karena itu berarti: ia bisa menjadi siapa saja, atau tidak menjadi siapa-siapa.
Bau solar memenuhi udara. Bram belum pernah mencium aroma seperti itu sebanyak ini. Solar. Asap. Air laut. Keringat manusia. Ikan. Karat. Semuanya bercampur menjadi satu. Kasar. Bising. Hidup.
Ia berdiri cukup lama. Sampai seseorang menabraknya dari belakang.
"Woi! Jalan!"