Malam pertama Bram di Jakarta hampir tidak terasa seperti malam. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak cahaya. Terlalu banyak manusia. Di Lampung, malam adalah sesuatu yang turun perlahan. Langit menggelap. Suara-suara berkurang. Orang pulang ke rumah.
Di sini, malam hanya pergantian jam. Truk masih melintas. Orang masih berteriak. Warung masih buka. Pelabuhan masih bergerak. Kota ini seperti makhluk yang menolak tidur, dan Bram tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
Menjelang tengah malam, ia menemukan sebuah sudut di dekat gudang tua. Tidak nyaman. Tidak aman. Tapi cukup terlindung dari angin. Ia meletakkan tas kain di bawah kepala. Memeluknya. Lalu berusaha tidur. Tidak berhasil. Lantai terlalu keras. Nyamuk terlalu banyak. Suara terlalu bising.
Namun yang paling mengganggu adalah pikirannya sendiri. Ia membayangkan rumah. Membayangkan ibunya. Membayangkan ayahnya. Apakah mereka sudah tahu ia pergi? Apakah mereka mencarinya? Apakah ibunya menangis? Bram memejamkan mata lebih rapat. Karena beberapa pertanyaan tidak memiliki jawaban yang sanggup ditanggung oleh anak berusia empat belas tahun.
***
Pagi datang terlalu cepat. Bersama pagi datang juga rasa lapar. Lapar yang berbeda. Bukan lapar sebelum makan siang. Bukan lapar setelah bermain. Lapar yang membuat kepala terasa ringan. Lapar yang membuat seseorang mulai menghitung uang sebelum menghitung hari.
Bram membeli sarapan paling murah yang bisa ia temukan. Kemudian duduk sambil memperhatikan orang-orang. Buruh. Kernet. Pedagang. Kuli angkut. Semua tampak memiliki tujuan. Hanya dirinya yang berjalan tanpa arah, dan itu mulai terasa memalukan.
Hari ke-dua. Hari ke-tiga. Hari ke-empat. Uangnya terus berkurang. Tidak cepat, tapi pasti. Seperti air menetes dari ember yang bocor. Sedikit demi sedikit. Cukup untuk membuat panik.
Pada hari ke-lima, Bram mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan apa saja. Ia menawarkan tenaga. Ditolak. Menawarkan bantuan. Ditolak. Menawarkan diri untuk mengangkat barang. Ditolak lagi. Karena kota ini tidak kekurangan anak miskin. Tidak kekurangan orang yang lapar. Tidak kekurangan orang yang lebih kuat daripada dirinya.