Jakarta mengajarkan banyak hal kepada Bram. Salah satunya: orang lapar lebih mudah dikenali oleh sesama orang lapar. Sudah hampir dua minggu sejak ia tiba. Tubuhnya mulai terbiasa dengan ritme kota. Bangun pagi. Mencari pekerjaan. Mencari makan. Mencari tempat berteduh. Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.
Hari-hari mulai bercampur. Sampai suatu siang yang panas, ketika Bram sedang duduk di bawah pohon dekat pasar. Tidak melakukan apa-apa. Karena hari itu ia gagal mendapat pekerjaan. Ketika tidak ada pekerjaan, tidak ada uang. Ketika tidak ada uang, tidak banyak hal yang bisa dilakukan selain duduk.
Di pangkuannya terbuka sebuah buku. Buku yang sudah dibacanya berkali-kali. Begitu sering hingga beberapa halaman mulai lepas. Namun tetap dibacanya. Setidaknya membaca jauh lebih mulia daripada putus asa.
"Tuh buku udah mau copot isinya."
Bram mengangkat kepala. Seorang lelaki tua berdiri beberapa langkah di depannya. Kurus. Rambut memutih. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Dia membawa gerobak kecil berisi tumpukan buku bekas.
Bram tidak langsung menjawab.
Lelaki itu mendekat. Melihat sampul buku di tangan Bram.
"Hmm." Lalu tersenyum. "Kau benar-benar baca itu?"
"Iya."
"Bukan buat gaya?"
"Buat apa gaya kalau nggak ada yang lihat?"
Lelaki tua itu tertawa keras. Tawa yang terdengar tulus. Mungkin ketulusan pertama yang dia rasakan sejak Bram tiba di Jakarta. Hari itu ada seseorang yang tertawa bersamanya. Bukan menertawakannya. Bersamanya.
"Aku suka jawaban itu."
Lelaki tua tersebut duduk di sebelahnya tanpa diminta. Kemudian mengambil rokok dari saku. Menyalakannya.