Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #15

Puisi untuk Orang Asing

Waktu berlalu begitu saja. Tanpa terasa sudah tiga tahun Bram hidup di Jakarta. Mencoba bertahan dari hari ke hari. Mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan. Membantu Surya berjualan buku bekas, mengangkut karung beras, mengatur parkir di depan toko, jadi buruh angkut di pasar, kadang juga bantu-bantu cuci piring di rumah makan. Apa saja yang bisa dia lakukan, dia tidak punya cukup daya untuk memilih-milih. Hal yang utama baginya saat itu adalah bertahan hidup.

Pada awal tahun ke-empat dia di Jakarta, kota itu diguyur hujan nyaris tanpa henti. Januari yang basah. Hujan turun hampir sepanjang minggu. Jakarta berubah menjadi genangan. Jalanan berlumpur. Langit kusam. Bisnis Surya ikut sepi. Orang-orang yang kesulitan membeli makan tentu tidak berpikir untuk membeli buku. Akibatnya mereka lebih banyak duduk. Lebih banyak mengobrol. Lebih banyak menunggu.

Suatu sore, ketika hujan mengguyur atap seng dengan suara yang nyaris menenggelamkan percakapan, Surya melihat Bram sedang mencoret-coret buku catatannya.

"Masih nulis?"

Bram menutup buku itu refleks.

Gerakan yang membuat Surya tertawa. "Kalau disembunyiin terus, buat apa ditulis?"

Bram mengangkat bahu. "Gak penting."

"Kalau gak penting, kenapa ditulis?"

Bram tidak punya jawaban. Karena sebenarnya untuk dia, tulisan-tulisan itu penting. Terlalu penting. Justru karena itu ia takut menunjukkannya kepada siapa pun.

Malamnya, ketika Surya pergi membeli kopi, Bram kembali membuka buku catatannya. Halaman demi halaman dipenuhi tulisan. Puisi. Potongan kalimat. Pengamatan kecil. Tentang pelabuhan. Tentang kota. Tentang orang-orang yang tidur di trotoar. Tentang kerinduan yang tidak memiliki alamat. Tidak ada yang istimewa menurutnya. Hanya cara agar kepalanya tidak terlalu penuh.

Tanpa dia duga, ketika Surya kembali, lelaki tua itu mengambil buku tersebut begitu saja.

"Eh!"

Terlambat. Surya sudah membuka halaman pertama. Bram langsung merasa ingin mati. Lebih baik mengangkat seratus karung beras daripada melihat orang lain membaca coretan pribadinya. Terutama ketika orang itu membacanya dalam diam. Diam adalah bagian terburuk. Karena diam bisa berarti apa saja. Tidak suka. Bingung. Atau kasihan. Bram tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Surya membaca cukup lama. Sangat lama. Sampai akhirnya menutup buku itu, lalu menyerahkannya kembali.

"Tulisanmu berantakan."

Jantung Bram jatuh.

"Tapi jujur."

Lihat selengkapnya