Setelah puisi itu ditempel di gerobak Surya, sesuatu mulai terjadi. Bukan hal besar. Tidak dramatis. Tidak cukup untuk mengubah hidup siapa pun. Tetapi cukup untuk membuat Bram memperhatikannya.
Orang-orang mulai berhenti. Kadang hanya beberapa detik. Kadang satu menit. Kadang lebih lama. Mereka membaca. Lalu pergi. Sebagian tidak mengatakan apa-apa. Sebagian tersenyum. Sebagian mengernyit.
Namun yang paling membuat Bram terkejut adalah satu kenyataan sederhana: Mereka membaca sampai selesai. Hal itu saja sudah terasa seperti keajaiban. Karena selama ini puisi-puisi tersebut hanya hidup di dalam kepalanya. Kini mereka hidup di mata orang lain.
Suatu siang, seorang mahasiswa yang sering lewat berhenti lebih lama dari biasanya. Ia membaca. Kemudian menoleh kepada Surya.
"Ini siapa yang nulis?"
Bram langsung pura-pura sibuk menyusun buku. Surya meliriknya. Lalu tersenyum jahat.
"Dia." Jari lelaki tua itu menunjuk lurus ke arah Bram.
Bram hampir tersedak. Mahasiswa tersebut menatapnya. Lama. Kemudian mengangguk.
"Bagus." Lalu pergi.
Hanya itu. Bagus. Satu kata. Tidak lebih. Namun sepanjang hari Bram terus mengingatnya. Karena pujian dari orang asing terasa berbeda. Tidak ada kewajiban untuk bersikap baik. Tidak ada alasan untuk berbohong. Mereka bisa saja tidak peduli. Tapi mereka memilih berhenti, dan membaca.
Malam itu Surya menyerahkan sebuah amplop kosong. Bram memandangnya bingung.
"Apa ini?"
"Kesempatan."
"Bentuknya kok amplop?"
"Karena memang amplop."
Surya tertawa. Lalu mengambil sebuah majalah sastra dari bawah gerobak. Majalah itu sudah kusut. Sudut-sudutnya terlipat. Beberapa halaman bahkan mulai menguning. Bram langsung mengenali bagian yang ditunjuk Surya.
Alamat Kantor Redaksi. Persis seperti alamat yang dulu sering ia salin berkali-kali di Lampung. Seolah hidup sedang membuat lingkaran.
"Kirim." Surya berkata singkat.
Bram terdiam. "Aku pernah kirim."
"Terus?"