Waktu berlalu. Musim berganti. Hujan datang dan pergi. Jakarta tetap keras. Tetapi Bram mulai belajar ritmenya. Ia tidak lagi tersesat setiap kali berpindah jalan. Tidak lagi panik setiap kali uang menipis. Tidak lagi terkejut melihat orang tidur di emperan toko.
Perlahan-lahan, kota yang dahulu terasa seperti monster mulai berubah menjadi sesuatu yang bisa dipahami. Tidak ramah. Tetapi bisa dipelajari. Bagi Bram, itu sudah cukup.
Puisi-puisinya terus bertambah. Satu demi satu. Ditulis di sela pekerjaan. Ditulis saat menunggu hujan reda. Ditulis ketika lapar. Ditulis ketika kenyang. Kadang bagus. Kadang buruk.
Namun Surya selalu mengatakan hal yang sama. "Terus nulis."
Sesederhana itu.
Mereka kembali mengirim karya. Ke satu majalah. Lalu majalah lain. Lalu koran harian. Mingguan. Lalu buletin kecil yang bahkan nyaris tidak dikenal siapa pun. Sebagian besar tidak membalas. Sebagian membalas dengan penolakan. Sebagian tampaknya bahkan tidak pernah membaca.
Namun Bram terus mengirim. Karena kini ia memahami sesuatu yang dulu tidak diketahuinya. Menulis dan berharap adalah dua pekerjaan yang berbeda. Dia percaya bahwa seorang penulis harus sanggup melakukan keduanya.
Suatu pagi, ketika Surya sedang menata buku-buku bekasnya, seorang anak pengantar koran melemparkan surat kabar ke dekat gerobak. Tidak ada yang istimewa. Dia memang berlangganan surat kabar itu. Sampai kemudian Surya mengambil dan membacanya, lalu mendadak terdiam. Sangat diam. Diam yang membuat Bram menoleh.