Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #18

Lima Rupiah untuk Sebuah Nama

Beberapa hari setelah puisinya dimuat di koran, Bram masih membawa lembaran itu ke mana-mana. Tidak dipamerkan. Tidak diperlihatkan. Hanya dibawa. Dilipat rapi. Disimpan di dalam buku catatan. Seperti jimat.

Kadang ketika sedang sendirian, ia membukanya lagi. Memastikan namanya masih ada. Bahwa semua itu sungguh terjadi. Bahwa beberapa baris yang lahir di antara lapar, hujan, dan kesepian akhirnya menemukan tempat di dunia. Namun dunia, seperti biasa, memiliki selera humor yang aneh.

Tiga hari setelah publikasi itu, Bram tetap bangun dalam keadaan lapar. Tetap harus mencari pekerjaan. Tetap harus menghitung uang sebelum membeli makan. Tidak ada yang berubah. Tidak satu pun. Nama yang tercetak ternyata tidak bisa membeli nasi.

"Kok murung?" tanya Surya.

"Biasa."

"Masih mikirin koran itu?"

Bram diam. Surya tertawa.

"Bagus."

"Apa yang bagus?"

"Kalau kau kecewa."

Bram mengernyit.

"Orang yang kecewa setelah berhasil biasanya masih punya kesempatan berkembang."

"Lalu yang senang?"

"Mereka biasanya berhenti."

Kalimat itu menempel cukup lama di kepala Bram. Karena diam-diam ia tahu Surya benar. Sejak puisi itu dimuat, ia mulai membayangkan banyak hal. Redaktur yang akan mencari namanya. Majalah yang akan memuat puisinya lagi. Pembaca yang akan mengingat karyanya. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Sebagian besar orang bahkan tidak membaca kolom sastra. Sementara dari yang membaca, hampir tidak ada yang mengingat nama penulisnya.

Lihat selengkapnya