Komunitas itu ditemukan Bram secara tidak sengaja –meski sebenarnya tidak ada yang benar-benar kebetulan dalam hidup. Suatu sore, seorang mahasiswa yang sering membeli buku dari Surya datang lagi. Namanya Arif. Kurus. Berkacamata. Rambutnya selalu tampak seperti baru saja kalah berkelahi dengan sisir. Ia sering membeli buku bekas. Jarang menawar. Sering mengobrol.
Suatu hari ia berkata: "Kalau suka nulis, ikut aja."
"Ikut apa?"
"Diskusi."
Bram langsung membayangkan sesuatu yang membosankan. Orang-orang duduk melingkar. Membaca makalah. Mengantuk bersama. Namun Surya justru menyikut lengannya.
"Cobain aja, datang dulu."
"Buat apa?"
"Supaya tahu dunia."
Dua malam kemudian Bram ikut. Tempatnya bukan kampus megah. Bukan gedung kebudayaan. Bukan perpustakaan. Melainkan warung kopi kecil yang setengah bangkunya sudah patah. Ada sekitar dua belas orang. Mungkin lima belas. Tidak lebih. Sebagian mahasiswa. Sebagian penyair. Sebagian tampaknya tidak jelas pekerjaannya apa. Namun semuanya memiliki satu kesamaan. Mereka menyukai kata-kata. Terlalu menyukai kata-kata. Suasana yang membuat Bram langsung jatuh cinta.
Malam itu orang-orang berbicara tentang sastra. Tentang puisi. Tentang novel. Tentang filsafat. Tentang politik. Tentang dunia. Kadang semua topik tersebut bercampur menjadi satu hingga sulit dibedakan. Ada yang mengutip penyair Rusia. Ada yang mengutip filsuf Jerman. Ada yang mengutip penyair Indonesia. Ada juga yang tampaknya hanya mengutip dirinya sendiri. Namun Bram mendengarkan semuanya. Rakus. Seperti orang kelaparan menemukan meja penuh makanan. Setelah sekian lama berada di tempat yang tidak mengerti kegelisahan dan kecintaannya pada dunia sastra, ia kini berada di ruangan yang dipenuhi orang-orang yang menganggap sastra itu penting. Bukan hobi. Bukan hiburan. Penting.
Malam semakin larut. Asap rokok semakin tebal. Kopi semakin pahit. Percakapan semakin liar. Bram semakin terpesona.
Sampai seorang lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahun bertanya: "Kau siapa?"
Semua mata langsung mengarah kepadanya. Bram mendadak gugup.
"Aku Bram."
"Penulis?"
Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Ia ingin menjawab iya. Tetapi terasa sombong. Ingin menjawab tidak. Tetapi terasa tidak jujur.