Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #20

Suara Pertama Terdengar Gemetar

Awalnya Bram hanya datang untuk mendengarkan. Itu sudah cukup baginya. Duduk di pojok. Memegang kopi yang terlalu lama dingin. Mendengar orang-orang membicarakan buku yang belum pernah dibacanya. Kadang mengerti. Kadang tidak. Namun tetap datang. Karena ada sesuatu yang membuatnya betah. Perasaan bahwa ia tidak sendirian. Bahwa di kota sebesar ini ternyata ada orang-orang yang sama anehnya. Orang-orang yang mau berdebat selama dua jam hanya karena satu bait puisi.

Malam itu jumlah peserta lebih banyak dari biasanya. Kursi tambahan didatangkan. Asbak penuh. Suara tawa bercampur asap rokok. Diskusi berjalan seperti biasa. Sampai seorang lelaki muda bernama Damar berdiri. Damar termasuk anggota lama komunitas itu. Usianya sekitar awal dua puluhan. Sudah beberapa kali puisinya dimuat di koran. Menurut Bram, ia termasuk golongan manusia yang tampak terlahir untuk berada di ruangan seperti ini. Percaya diri. Lancar bicara. Mudah membuat orang mendengarkan. Kebalikan dari dirinya.

Malam itu Damar selesai membacakan beberapa puisi. Tepuk tangan terdengar. Lalu, sambil menyeruput kopi, ia memandang sekeliling.

"Siapa lagi?"

Tidak ada yang bergerak.

"Jangan cuma jadi penonton."

Masih sepi. Kemudian entah bagaimana matanya berhenti pada Bram.

"Bocah Lampung."

Bram menoleh.

"Kau."

Jantungnya langsung turun ke perut.

"Aku?"

"Iya."

"Aku nggak—"

"Punya puisi?"

Semua mata mengarah kepadanya. Mendadak ruangan terasa dua kali lebih panas baginya. Bram memang membawa buku catatan. Selalu. Namun membawa buku dan membacakannya adalah dua perkara yang berbeda. Sangat berbeda. Ia menulis untuk bertahan hidup. Bukan untuk tampil.

"Ayo." Damar tersenyum. "Kalau jelek, paling kami hina sedikit."

Ruangan tertawa. Termasuk Bram. Meski tawanya terdengar seperti orang yang sedang menuju tiang gantungan. Beberapa menit kemudian ia berdiri. Dengan buku catatan di tangan, dan lutut yang nyaris tidak mau bekerja sama. Ruangan mendadak terasa jauh lebih besar. Lampu terasa lebih terang. Udara terasa lebih tipis.

Lihat selengkapnya